Selamat Datang Di Blog Kami
Film - Cerita Horor - Berita - Musik - Pendidikan - Puisi. dll
Film-film Legendaris
Japan - Korea - K-drama - dan masih banyak lagi
Film-film Legendaris
Japan - Korea - K-drama - dan masih banyak lagi
FHD Quality only for you
film berkualitas HD ada disini
Cerita Horor
silahkan baca, elu takut gue gak tanggungjawab. . .
Minggu, 28 Maret 2021
Malam Nisfu 28 Maret 2021
Cerita Horor | Pembalasan sang Mantan episode 32
#Pembalasan sang mantan
#Fiksi
#Part 32
"Aisyah, kita perlu bicara," kata Adam saat Aisyah hendak pergi kekantin. Wajah Adam tampak sangat kusut, terlihat gurat2 kesedihan yang mendalam disana. Benar2 tidak nampak lagi wajah playboynya, berganti dengan wajah memelas menghiba cinta dari seorang wanita.
Aisyah menatap Adam begitu dalam, terlihat dengan jelas sinar cinta dari matanya. Cinta yang berusaha dia tutupi demi keselamatan Adam dari Daffa yang sudah tidak waras. Tanpa mengiyakan ajakan Adam, Aisyah mengikuti laki2 itu masuk kedalam ruangannya.
"Kita makan disini ya, Mas sudah menyiapkan semuanya," kata Adam begitu sampai diruangannya. Ternyata Adam sudah menyiapkan makan siang untuk mereka berdua.
"Mas..." lirih Aisyah memanggil.
"Iya sayang.....masih boleh Mas memanggil dengan sebutan itu kan?" Adam bertanya dengan suara yang sangat lembut.
Aisyah mengangguk ragu.
"Ayo kita makan dulu sayang, setelah itu baru kita bicara," ajak Adam sembari duduk disofa yang ada disudut ruang kerjanya.
Aisyah hanya mengangguk tanpa menjawab, entah mengapa dia merasa tidak dapat menolak Adam, dia lupa akan ancaman Daffa.
Setelah selesai makan, Adam segera memanggil OB untuk membereskan bekas makan mereka. "Ini Pak" kata Adam sembari menyodorkan beberapa lembar uang pada OB yang sudah selesai membereskan mejanya.
"Makasih Pak," kata OB itu kemudian segera berlalu.
Adam hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Sayang, tolong katakan sama Mas kalau kamu memang tidak mencintai Mas lagi," kata Adam setelah OB itu pergi.
Aisyah menatap wajah Adam dengan mata yang berkaca2. Rasa cintanya yang begitu dalam tidak dapat ia sembunyikan. "Mas Adam..." panggilnya dengan suara bergetar.
"Iya sayang, katakanlah apa yang ingin kamu katakan," ucap Adam juga dengan mata yang berkaca2. Ingin sekali rasanya Adam menggenggam jemari lentik gadis itu, namun apa dikata...dari pada malu karena ditolak...
"Mas janji bisa jaga diri demi aku?" Tanya Aisyah.
Adam tampak heran dengan pertanyaan Aisyah. "Maksud kamu sayang?" Adam balik bertanya.
"Daffa orangnya nekat Mas, dia gak akan segan2 mencelakai Mas bila kita tetap berhubungan," Aisyah menjelaskan.
"Jadi karena ini kamu jauhi Mas?" Adam bertanya.
"Iya Mas, aku takut Mas Adam diapa2in sama Daffa, soalnya dulu pernah terjadi juga, temanku dihajarnya sampai masuk rumah sakit gara2 cemburu," terang Aisyah.
"Sayang...Mas akan selalu hati2, karena Mas punya kewajiban jagain kamu, melindungi kamu," kata Adam dengan mata berbinar mengetahui bahwa sebenarnya Aisyah masih mencintainya.
"Mas Adam janji ya?" Kata Aisyah.
"Janji" jawab Adam penuh keyakinan. "Jadi...kita gak jadi putuskan?" Adam bertanya.
Aisyah tersenyum mendengar pertanyaan Adam, "aku udah maafin semua masalalu Mas...aku juga masih cinta sama Mas," kata Aisyah.
Serasa seperti mimpi Adam mendengar perkataan Aisyah, gadis yang meluluh lantakkan hatinya dari kesombongan dan keegoisan.
**********
"Jadi gimana Aisyah, kamu sudah memikirkannya?" Tanya Daffa saat diperjalanan pulang dari kantor. Matanya sesekali tampak melirik gadis disampingnya yang selalu menatap keluar jendela.
"Sudah" jawab Aisyah singkat.
"Jadi?" Daffa merasa tidak sabar mendengar keputusan Aisyah.
"Aku gak bisa menikah dengan kamu Daffa, karena aku mencintai Adam," jawab Aisyah terang2an.
Dengan tiba2 Daffa menginjak rem mobilnya hingga terdengar suara decitan yang panjang.
"Apa maksud kamu Aisyah?" Tanya Daffa dengan emosi. "Aku mencintai kamu Aisyah," tambahnya lagi.
"Aku juga mencintai kamu Daffa...tapi itu dulu, sebelum kamu mengkhianati aku," jawab Aisyah tidak kalah emosi.
Segera Aisyah turun dari mobil Daffa dan berpindah kemobil Adam yang ternyata memang sudah mengikuti dari belakang.
"Aisyah..." panggil Daffa.
Segera Adam melajukan mobilnya meninggalkan Daffa yang masih mematung dibelakang kemudinya.
**********
"Jangan....!" Teriak Adam sambil berlari meninggalkan mobilnya dipinggir jalan. Sosok tinggi besar dan hitam itu terus mengejarnya sambil membawa seutas tali.
"Gggrrrrr.....gggrrrrr....." suara sosok itu begitu mengerikan dengan air liur yang menetes2 dari bibirnya yang juga berwarna hitam.
Adam terus berlari menyusuri jalan2 yang tampak begitu sepi, tidak seperti biasanya. Adam jatuh tersungkur saat kakinya terantuk pada sesuatu.
Dengan segera sosok hitam itu menangkapnya dan melilitkan tali yang dibawanya pada leher Adam. Dengan sekuat tenaga Adam berusaha menahan tali itu agar tidak mencekik lehernya.
"Uhk...uhk...uhk..." Adam terbatuk karena jeratan dilehernya makin mengencang. "Tolong...tolong..." teriak Adam dengan sisa2 tenaga yang ada.
"Tok..tok..tok.." terdengar ketukan disertai panggilan. "Mas Adam...Mas Adam..." Bik Iyem memanggil.
Adam membuka matanya, ternyata dia cuma mimpi. Keringat membasahi sekujur tubuhnya. Mimpi itu benar2 tampak nyata. Lehernya pun terasa sakit dan pedih akibat lilitan tali didalam mimpinya barusan.
"Iya Bik" Adam menjawab panggilan Bik Iyem. Dengan langkah berat, Adam membuka pintu kamarnya. Terlihat Bik Iyem berdiri diambang pintu dengan wajah cemas.
"Ada apa Mas kok teriak2?" Tanya Bik Iyem kemudian.
"Aku mimpi buruk Bik," jawab Adam sembari memegang lehernya yang terasa sakit.
"Leher Mas Adam kenapa?" Tanya Bik Iyem cemas karena melihat leher Adam yang tampak merah kebiruan.
"Gak tau Bik, tiba2 aja udah gini," jawab Adam masih dengan memegangi lehernya.
"Sini biar Bibik obatin Mas," kata Bik Iyem sambil memapah Adam agar duduk ditempat tidur. Bik Iyem pergi mengambil air hangat didapur untuk membersihkan luka dileher Adam.
"Makasih ya Bik," kata Adam saat Bik Iyem masih sibuk membersihkan lukanya.
"Makanya Mas Adam cepat cari istri, biar ada yang ngurusin," ucap Bik Iyem sembari mengoleskan obat luka dileher Adam yang lecet.
Adam tersenyum mendengar ucapan Bik Iyem. "Secepatnya Bik, doain ya," jawab Adam.
"Bibik selalu mendoakan yang terbaik buat Mas Adam," kata Bik Iyem. "Mas Adam ganti baju dulu, ini basah semua nih, nanti Mas Adam masuk angin," tambah Bik Iyem sambil berlalu membawa baskom berisi air hangat yang digunakan untuk membersihkan luka dileher Adam.
**********
Hari sudah pagi, dengan mata yang masih berat Adam turun dari tempat tidurnya dan pergi kekamar mandi. Lehernya masih terasa pedih dan sakit. Disudut kamar mandi, dilihatnya sosok wanita berbaju merah yang menatapnya dengan tajam, buru2 Adam berlari keluar dengan jantung yang berdegup kencang.
"Ah....aku salah lihat kali..." gumam Adam lirih. Dengan perlahan2, Adam kembali membuka pintu kamar mandi untuk memastikan keberadaan sosok berbaju merah yang dilihatnya tadi.
Begitu terkejutnya Adam ketika pintu kamar mandi terbuka, tiba2 saja sosok itu sudah berdiri diambang pintu dengan mulut meneteskan darah yang menimbulkan bau anyir yang sangat.
Adam menutup mulut dan hidungnya sambil berlari keluar dari kamar. Hampir saja dia menabrak Bik Iyem yang bermaksud membangunkannya.
"Kenapa Mas? Baru saja Bibik mau banguni," kata Bik Iyem heran karena Adam berlari seperti orang ketakutan.
"Itu Bik...itu..." jawab Adam terbata.
"Itu apa Mas?" Bik Iyem tambah bingung.
"Itu...ada hantu dikamar mandi," Adam menjelaskan.
Bukannya ikut takut, Bik Iyem malah tertawa mendengar ucapan Adam. "Mas Adam percaya yang begituan?" Bik Iyem bertanya.
*********
Begitulah...gangguan demi gangguan dialami oleh Adam dalam kesehariannya, baik secara sadar atau dibawah sadar. Entah sebenarnya ada apa...
-----Next----- Episode 33
Cerita Horor | Pembalasan sang Mantan Episode 31
#Pembalasan sang mantan
#Fiksi
#Part 31
"Cukup Daffa...cukup..." ucap Aisyah memohon, tangisnya makin menjadi menyaksikan Adam yang tersungkur. "Kamu sudah janji tidak akan menyakiti Adamkan?" Tambahnya lagi.
Daffa tampak menggigit bibirnya sembari memandang kearah lain. Dia sepertinya menyesal, dia lupa akan janjinya pada Aisyah untuk tidak menyakiti dan mencelakai Adam bila Aisyah mau kembali padanya. "Maaf Aisyah, aku lupa, aku terlalu emosi," kata Daffa kemudian.
"Mas Adam, sebaiknya Mas pulang," kata Aisyah sembari membantu Adam untuk berdiri.
"Aisyah..." Adam memanggil lirih dengan wajah memelas.
"Maafkan aku Mas, aku gak bisa melanjutkan hubungan kita," ucap Aisyah dengan wajah penuh penyesalan.
"Aisyah..." Adam menghiba
"Aku harap Mas Adam mau mengerti," kata Aisyah sembari meninggalkan Adam yang masih berdiri terpaku.
"Silahkan pergi. Itu mobil anda masih tetap disana belum berpindah," kata Daffa sambil menunjuk kearah mobil Adam yang terparkir dipinggir jalan.
Dengan langkah gontai Adam meninggalkan rumah Aisyah. Air mata yang sedari tadi ditahannya tidak sanggup lagi ia bendung. Hatinya begitu sakit dan hancur dengan keputusan Aisyah.
**********
Hingga larut malam, Aisyah masih saja menangis. Dia merasa tidak tega menyakiti Adam seperti itu. "Mas Adam, maafkan aku Mas...aku terpaksa, semuanya demi kebaikkan Mas," gumam Aisyah lirih.
"Kriiing" terdengar suara panggilan dari ponselnya. Buru2 ia melihatnya, "Mas Adam" ucapnya lirih sembari menatap layar ponsel. Hatinya dirundung kebimbangan, haruskah ia terima telepon dari Adam atau membiarkannya.
Dengan tangan bergetar Aisyah menggeser layar ponselnya kearah atas.
"Aisyah, alhamdullilah kamu mau menerima telepon Mas," ucap Adam sebelum Aisyah sempat berkata apa2. "Aisyah, Mas sangat sayang sama kamu Aisyah, Mas gak bisa hidup tanpa kamu," tambahnya lagi.
Bukannya bahagia dengan ucapan Adam, justru hati Aisyah bagai teriris sembilu. Air matanya makin deras mengalir.
"Aisyah, kamu menangis?" Adam bertanya.
"Mas Adam..." panggil Aisyah dengan suara bergetar menahan gejolak jiwa yang memberontak. "Lupakan aku Mas, aku gak bisa memaafkan masalalu Mas," tambahnya memberi alasan.
"Aisyah...tolong ampuni Mas Aisyah...Mas benar2 menyesal dengan masalalu Mas," kata Adam sambil sesenggukan. "Tolong Aisyah...tolong..." ucap Adam menghiba.
"Maaf Mas, aku gak bisa," jawab Aisyah kemudian memutus telepon.
**********
Mata Aisyah tampak sembab akibat terlalu banyak menangis. Fikirannya masih kacau. Beberapa kali Daffa mengajaknya berbicara namun tidak dihiraukannya.
"Aisyah..." Daffa memanggil.
Aisyah hanya menoleh tanpa menjawab, laki2 yang dulu sangat dicintainya itu kini berubah menjadi sangat ia benci.
"Sekarang aku sudah resmi bercerai dari Maya, Aisyah," Daffa mengabarkan. "Sekarang tidak ada lagi yang bisa menghalangi cinta kita yang sempat terputus," ucapnya lagi sembari tersenyum.
"Apa??" Tanpa sadar bibir Aisyah berucap.
"Iya Aisyah, secepatnya kita akan menikah," kata Daffa tampak bahagia. Sungguh dia tidak menyangka akan bisa menikahi gadis yang sangat dicintainya itu.
"Daffa aku belum siap," Kata Aisyah. Jantungnya berdegup kencang mendengar kata pernikahan. Bagaimana bisa dia menikah dengan Daffa? Sedangkan cintanya buat Adam.
"Belum siap?" Daffa bertanya sambil menyipitkan matanya. "Dulu kita sudah hampir menikah Aisyah, kenapa sekarang belum siap," tambahnya lagi.
"Itu dulu Daffa, untuk sekarang aku perlu berfikir dulu," kata Aisyah .
"Semakin cepat kita menikah, semakin terjamin keselamatan Adam," Daffa mengingatkan.
Aisyah tertunduk tak berdaya, tidak dapat lagi ia membantah perkataan Daffa. Daffa benar2 sudah tidak waras.
"Akan secepatnya ku beri jawaban," kata Aisyah dengan wajah sedih.
**********
-----Next----' Episode 32
Mati lampuuu...hilang sinyal...
Segini dulu
Cerita Horor | Pembalasan sang Mantan Episode 30
#Pembalasan sang mantan
#Fiksi
#Part 30
Kecewa sudah pasti kecewa, sakit hati, itu juga sudah pasti. Tapi kejujuran Adam dengan mengakui kesalahannya dimasalalu dengan konsekuensi hancurnya hubungan asmara mereka masih menjadi pertimbangan Aisyah. Apalagi dilubuk hati gadis itu masih ada cinta yang tersimpan untuk Adam.
Tetapi, ancaman Daffa untuk mencelakai Adam membuat Aisyah harus menjaga jarak. Dan sekarang, Daffa juga masih sibuk mengurus perceraiannya. Laki2 itu benar2 sudah gila. Demi untuk mendapatkan Aisyah, dia tega menceraikan istrinya dan tidak memperdulikan anaknya.
"Daffa, aku mohon kamu mau mempertimbangkannya lagi, kasihan istri dan anakmu," ucap Aisyah pada suatu ketika.
"Tidak ada yang harus dipertimbangkan Aisyah, aku tidak pernah mencintainya, cintaku hanya untuk kamu," jawab Daffa keras kepala.
"Tapi..."
"Aisyah...keselamatan Adam ada ditanganmu," Daffa memotong ucapan Aisyah sebelum sempat gadis itu menyelesaikannya.
Aisyah tertunduk, dia tidak dapat lagi membantah. Inikah laki2 yang dulu dicintainya? Inikah laki2 yang dulu akan menjadi suaminya? Mungkin inilah sebabnya kenapa Tuhan memisahkan mereka, gadis sebaik Aisyah tidak patut mendapatkan laki2 bejat macam Daffa.
**********
Adam masih duduk melamun diteras rumahnya ketika Yudi sahabatnya datang berkunjung. "Hei Dam, kamu kenapa?" Tanya Yudi membuyarkan lamunannya.
"Eh Yud, kapan pulang?" Adam balik bertanya tanpa terlebih dahulu menjawab pertanyaan sahabatnya itu.
"Kemarin. Nih oleh2 buat kamu," kata Yudi sembari menyodorkan sebuah paper bag.
"Aduh makasih Yud, kata Adam sembari menerima paper bag itu dan membukanya. Sebuah tshirt berwarna hitam bertuliskan Dagadu, persis seperti yang dipakai Yudi. "Wow...dagadu yogya," kata Adam. Segera dia melepaskan baju yang dipakainya dan berganti dengan tshirt yang dibawakan Yudi. "Makasih ya bro," katanya kemudian.
"Sip" jawab Yudi singkat.
"Jadi gimana usaha kamu diYogya, lancar?" Adam bertanya.
"Lumayan Dam, dan sekarang rencananya aku mau buka cabang dikota lain," jawab Yudi.
"Selamat ya bro, mudah2an semuanya lancar," kata Adam. Yudi membuka usaha restoran diYogya dengan bantuan modal dari Adam, dan kini sepertinya usahanya mulai berkembang.
"Bagaimana hubunganmu dengan Aisyah Dam? Kalian gak jalan, inikan hari libur?" Yudi bertanya.
Adam tampak menarik nafas dengan berat, wajahnya berubah murung seketika.
**********
Malam ini, Adam bermaksud pergi kerumah Aisyah, fikirannya benar2 tidak tenang. Dengan menggunakan kemeja panjang polos warna grey yang digulung sebatas siku dan dipadu dengan jeans warna hitam, Adam terlihat begitu tampan.
Segera ia berangkat dengan menggunakan mobilnya.
Setelah sampai didepan rumah Aisyah, Adam memarkir mobilnya dipinggir jalan dan dengan langkah penuh keyakinan ia memasuki halaman rumah gadis yang dicintainya itu.
"Tok..tok..tok.." Adam mengetuk pintu yang dulu pernah didobraknya saat akan menolong Aisyah. "Assalamu'alaikum" tambahnya mengucap salam. Lama tak ada jawaban, bahkan tanda2 kehidupan didalam rumah itupun tak ada.
Adam duduk tertunduk dikursi teras rumah Aisyah sembari memijit2 keningnya yang terasa sakit. Entah pergi kemana gadis pujaannya itu, mungkinkah bersama Daffa? "Aisyah" gumamnya lirih.
Adam tidak beranjak dari tempat duduknya, dia bermaksud menunggu Aisyah. Dilihatnya jam yang melingkar dipergelangan tangannya, sudah pukul 22.05, Aisyah belum juga pulang. Untuk menghilangkan rasa jenuhnya, dia memainkan game dari ponselnya.
Tidak begitu lama, Aisyah pulang diantar oleh Daffa. "Mas Adam" Aisyah memanggil lirih.
"Ngapain anda disini !" Tanya Daffa dengan emosi.
"Aisyah, Mas perlu bicara," kata Adam tanpa memperdulikan pertanyaan Daffa.
"Heii...jangan lagi ganggu Aisyah, Aisyah pacar saya," kata Daffa memberi tau. "Cepat pergi dari sini !" Bentak Daffa kemudian.
"Aisyah..." Adam memanggil.
Aisyah hanya terdiam sembari menunduk dengan sesekali membetulkan ujung hijabnya yang terjuntai.
"Aisyah, Mas mohon Aisyah, izinkan Mas untuk bicara," kata Adam menghiba, matanya berkaca2.
"Pak Adam...." belum sempat Daffa berkata, Aisyah memotongnya.
"Biarkan kami bicara berdua Daffa," ucap Aisyah.
"Tapi Aisyah..."
Aisyah mengangkat tangan kanannya sebagai isyarat untuk Daffa berhenti bicara.
"Oke, tapi gak lama2," kata Daffa kemudian berlalu meninggalkan Adam dan Aisyah berdua.
"Aisyah, terimakasih sudah mau meluangkan waktu untuk Mas," kata Adam begitu Daffa sudah pergi.
"Jadi maksud Mas gimana?" Aisyah bertanya.
"Aisyah, Mas minta maaf kalau Mas sudah membuat kamu kecewa. Tapi Mas sungguh2 menyesal Aisyah," kata Adam. "Mas betul2 sudah berubah," tambahnya lagi.
"Mas, sepertinya..." Aisyah menghentikan ucapannya. Wajahnya tertunduk, tampak ia begitu sedih.
"Sepertinya apa Aisyah?" Adam terlihat tidak sabar. Dia tampak memperhatikan Aisyah yang terus menunduk.
"Sepertinya hubungan kita sampai disini saja," kata Aisyah menyambung ucapannya yang terputus.
"Aisyah, kamu serius?" Tanya Adam seolah tidak percaya. "Jangan seperti itu Aisyah, Mas tau masih ada cinta dihati kamu untuk Mas, Mas bisa lihat itu dari mata kamu," kata Adam sok tau.
"Tapi Mas..."
"Waktu kalian sudah habis," kata Daffa dengan nada datar. Laki2 itu tiba2 muncul memutus ucapan Aisyah. "Aisyah, cepat masuk, sudah malam, nanti kamu sakit," kata Daffa lembut pada Aisyah.
Segera Aisyah beranjak masuk dan menutup pintu. Entah apa yang ada difikirannya saat ini. Terdengar dia menangis dibalik pintu.
"Aisyah, Mas belum selesai bicara Aisyah," panggil Adam sembari mengetuk2 pintu.
"Cukup !" Bentak Daffa sambil menarik lengan Adam yang masih mengetuk pintu. "Jangan sampai saya berbuat kasar lagi," tambah Daffa.
"Anda jangan halangi saya, Aisyah cuma mantan pacar anda..." kata Adam geram melihat kelakuan Daffa yang sok menguasai Aisyah.
"Anda !" Bentak Daffa sembari meghantamkan tinjunya diperut Adam. Seketika Adam tersungkur sembari memegangi perutnya yang terasa sakit.
"Mas Adam..." teriak Aisyah sambil berlari keluar dan menghampiri Adam yang masih tersungkur.
----Next---- Episode 31
Mungkin sekarang penampakannya sudah hilang dan berganti dengan sosok yang bisa melukai....(Daffa) dan saya rasa ini lebih dari sekedar horor. Semoga pembaca sekalian tidak kecewa.
Cerita Horor | Pembalasan sang Mantan episode 29
#Pembalasan sang mantan
#Fiksi
#Part 29
Kesehatan Adam benar2 menurun setelah semalaman tidur diteras rumah Aisyah. Walaupun sebelumnya sempat masuk kerja, akhirnya dia tumbang juga...
Bik Iyem tampak meletakkan handuk kecil dikening Adam yang terbaring lemah. Tatapan melas darinya tidak dapat disembunyikan, bagaimana tidak? Sedari kecil dialah yang merawat Adam karena kesibukan kedua orangtuanya.
Adam menatap wajah Ibu keduanya itu dengan sendu. "Makasih ya Bik, sudah mau merawat aku dari kecil sampai sekarang," kata Adam lemah.
"Mas Adam kok ngomong seperti itu? Ini sudah kewajiban Bibik," jawab Bik Iyem dengan logat jawanya yang medok. Wanita paruh baya itu sesekali tampak mengelus2 kaki Adam yang tertutup dengan selimut. "Sekarang Mas Adam istirahat dulu, Bibik masih ada pekerjaan dibelakang," kata Bik Iyem kemudian segera berlalu.
Adam hanya mengangguk tanpa mengiyakan. Tangannya meraih ponsel yang tergeletak dimeja dekat tempat tidurnya. Dia membuka galeri foto dan menatap foto Aisyah yang hanya satu2nya ia simpan. Foto itupun dia dapatkan dari mencuri. Iya, tanpa sepengetahuan Aisyah, Adam mengambil foto gadis itu yang masih sibuk dengan laptopnya.
Sungguh cantiknya Aisyah, dengan menggunakan hijab warna navy...kulit wajahnya begitu tampak putih bersih. "Aisyah, Mas Adam sangat mencintai kamu," gumam Adam lirih.
Kembali Adam mencelupkan handuk kecil yang menempel dikeningnya pada baskom kecil berisi air es yang tergeletak dimeja, lalu menempelkannya lagi dikeningnya. Kasihannya dia...
"Adam" tiba2 sosok Indah muncul didekat ia berbaring. Tatapan matanya tidak seperti biasanya yang terlihat tajam menyimpan dendam. Kali ini pandangan mata itu tampak sayu dan sedih.
"Indah..." Adam berusaha duduk sembari mengambil handuk kecil yang baru saja ia tempelkan dikeningnya.
"Maafkan aku Dam sudah membuat kamu menderita seperti ini," ucap Indah penuh penyesalan. "Seandainya aku tidak memaksamu untuk mengakuiku pada Aisyah, ini semua tidak akan terjadi," tambahnya lagi.
"Indah, ini bukan kesalahanmu. Memang sudah seharusnya aku mengakui semuanya," jawab Adam. "Aku yang seharusnya minta maaf sama kamu Indah," kata Adam menambahkan.
"Aku sudah memaafkanmu Dam, semua manusia tidak akan luput dari salah dan dosa. Itu juga bukan sepenuhnya kesalahanmu, akupun bersalah. Seandainya waktu itu aku menolak ajakanmu, semua ini tidak akan terjadi, jujur aku juga menginginkannya waktu itu..." Tutur Indah.
Adam tertegun sesaat mendengar penuturan Indah, gadis yang dulu pernah dicintai dan dinodainya, bahkan sampai hamil. Sedih rasanya ia mengingat kejadian itu.
"Aisyah gadis yang baik Indah, dia yang telah membuatku berubah," ucap Adam lirih.
"Aku tau Dam, dia gadis yang baik. Perjuangkan dia demi aku Dam," pinta Indah.
Adam terkejut mendengar ucapan Indah, sungguh dia tidak menyangka Indah mau berbesar hati merestui hubungannya dengan Aisyah. "Indah..." panggil Adam lirih seakan tidak percaya.
"Iya Dam, perjuangkan Aisyah, jangan sampai kamu menyesal," jawab Indah.
**********
"Aisyah" Adam seakan tidak percaya melihat siapa yang datang untuk menjenguknya. "Aku gak salah lihatkan? Ini benar2 Aisyah kan?" Kata Adam lagi sembari berusaha duduk dan mengucek2 kedua matanya.
"Iya Mas, ini aku Aisyah," jawab Aisyah sembari meletakkan bungkusan dimeja. "Mas Adam sakit apa?" Aisyah bertanya sembari duduk dikursi yang ada didekat tempat tidur Adam.
"Cuma flu aja kok," jawab Adam dengan wajah berseri. "Kamu pulang kerja langsung kesini sayang? Eh...Aisyah," tanya Adam.
Aisyah tersenyum mendengar Adam meralat panggilannya. "Iya Mas, karena tadi orang2 dikantor bilang Mas Adam gak masuk karena sakit," Aisyah menjelaskan.
"Makasih ya," ucap Adam.
"Mas Adam sudah makan?" Aisyah bertanya.
"Belum" jawab Adam singkat.
"Ini aku bawain bubur ayam, dimakan ya," kata Aisyah sambil membuka bungkusan yang ia bawa.
"Makasih ya say....Aisyah," buru2 Adam meralat panggilannya sebelum selesai diucapkan. Karena Adam juga belum tau pasti bagaimana status hubungannya dengan Aisyah, walaupun belum ada kata putus.
"Hampir magrib Mas, aku pulang dulu ya, cepat sehat, biar besok bisa kerja," kata Aisyah sambil tersenyum.
"Iya Aisyah, maaf sudah merepotkan," jawab Adam tampak kecewa. Sebenarnya dia masih ingin berdua dengan gadis itu lebih lama lagi, tapi apa dikata...
**********
Kesehatan Adam berangsur membaik, mungkin kedatangan gadis pujaannya kemarin menjadi obat yang mujarab bagi dirinya. Pagi ini Adam kembali masuk kerja, dia tampak bersemangat sekali. Bayangan Aisyah tidak bisa lepas dari matanya.
Sejenak dia berdiri bersandar dimobil sesaat setelah memarkirnya. Tampak ia membetulkan letak kacamata hitam yang dipakainya. "Deg" jantungnya berdegup dengan kencang saat dilihatnya Aisyah turun dari sebuah mobil putih, mobil Daffa.
"Aisyah" gumam Adam sembari melepas kacamata yang baru saja dibetulkannya. Sendi2 Adam terasa lemas menyaksikan gadis yang sangat dicintainya itu diantar oleh lelaki lain, apa lagi lelaki itu merupakan bagian dari masalalu Aisyah.
"Aisyah..."Adam memanggil.
"Mas Adam, sudah sehat?" Tanya Aisyah seolah tidak terjadi apa2.
"Siapa yang antar kamu?" Adam balik bertanya tanpa terlebih dahulu menjawab pertanyaan Aisyah. "Jadi memang sekarang Mas bukan siapa2 kamu lagi?" Tanya Adam penuh kekecewaan.
Aisyah seakan tidak mengerti dengan apa yang diucapkan Adam, matanya penuh dengan tanda tanya.
"Jawab Aisyah....semudah itukah?"
"Apa maksud Mas Adam? Aku gak ngerti..." jawab Aisyah.
"Kamu diantar Daffa kan? Kamu diantar mantan kamu kan?" Kata Adam dengan suara bergetar.
"Mas, aku bisa jelaskan semuanya..."
"Kita belum putuskan Aisyah? Belum putuskan?" Kata Adam memotong ucapan Aisyah.
"Mas, aku belum selesai bicara, dengarkan aku dulu," ucap Aisyah berusaha menjelaskan.
"Aisyah Mas mohon, jangan perlakukan Mas seperti ini, belum ada kata putus Aisyah," ucap Adam dengan mata memerah menahan air mata.
"Mas..."
----Next---- Episode 30
Maaf sudah menunggu...
Semoga tidak kecewa...
Salam cinta selalu dari saya pembuat cerita...
Cerita Horor | Pembalasan Sang Mantan Episode 28
#Pembalasan sang mantan
#Fiksi
#Part 28
Wajah Adam terlihat pucat dan letih akibat kurang tidur. Dinginnya udara semalam juga membuatnya terserang flu. "Haaaciihh...haciihh" terdengar Adam bersin berkali2. Berkas dan surat2 yang menumpuk membuat kepalanya sakit.
"Tring" sebuah pesan masuk melalui aplikasi hijau.
[Saya tidak akan menyerah Pak Adam, akan saya rebut kembali Aisyah dari pelukan anda] Daffa mengancam.
Adam menghela nafas setelah membaca pesan itu. Kepalanya menjadi semakin sakit. Begitu banyaknya cobaan yang harus ia hadapi untuk mendapatkan Aisyah, dia pun masih belum tau bagaimana kelanjutan hubungannya dengan Aisyah. Dan kini, kembali ditambah dengan teror dari Daffa mantan Aisyah.
"Ya Tuhan...inilah akibat dosa2ku," gumam Adam sembari mengusap wajahnya. Pekerjaan yang menumpuk terabaikan dengan beban fikiran yang jauh lebih menumpuk.
"Kriiiing" suara telepon membuyarkan lamunan Adam.
"Iya" jawab Adam setelah mengangkat telepon.
"Bapak ditunggu diruang rapat Pak," kata seseorang memberitau.
"Ya Tuhan, saya lupa. Oke, saya segera kesana," jawab Adam gugup, hal penting seperti itupun sampai dia lupakan. Adam bergegas keluar dari ruang kerjanya menuju keruang rapat. Langkahnya terhenti ketika melihat kearah meja kerja Aisyah, ternyata gadis pujaannya itu masuk juga hari ini. Terlihat dia begitu sibuk dengan laptopnya, dengan lincah jemarinya mengetik dan memainkan mouse.
Adam berjalan mendekati Aisyah melupakan bahwa dia sedang ditunggu banyak orang diruang rapat. "Sayang" Adam memanggil.
Aisyah menghentikan pekerjaannya, sesaat dia terdiam, dan perlahan2 menoleh keasal suara. Pandangannya sayu, wajahnya juga tampak pucat sama seperti Adam.
"Mas fikir kamu gak masuk," ucap Adam.
Aisyah tidak menjawab dan kembali meneruskan pekerjaannya.
"Maaf Pak, Bapak sudah ditunggu," tiba2 seseorang mengingatkannya.
"O iya sorry...saya segera kesana," jawab Adam kemudian meninggalkan Aisyah yang tidak memperdulikannya.
**********
Jam makan siang tiba, Aisyah bergegas pergi kewarung pecel lele yang ada didekat kantor. Matanya terlihat menatap kesekeliling, mengingat dia dan Adam pernah makan disitu.
"Sayang" terdengar suara memanggil, suara yang sangat dikenalnya.
Adam duduk didepan Aisyah yang tidak menghiraukannya sama sekali, gadis itu pura2 sibuk dengan ponselnya.
"Sayang, Mas mohon sayang, maafkan Mas," ucap Adam. Gadis didepannya itu masih saja tidak memperdulikannya, masih tetap sibuk dengan ponselnya.
"Sayang," kembali Adam memanggil sembari mengambil ponsel yang sedari tadi dimainkan Aisyah.
Sontak Aisyah memandang laki2 didepannya itu. "Kembalikan hpku" kata Aisyah sembari mengulurkan tangannya.
"Sayang dengar Mas dulu..."
"Kembalikan" Ucap Aisyah sebelum Adam selesai bicara. Wajahnya memerah tampak menahan amarah.
"Silahkan Buk," kata pemilik warung sambil menyajikan pesanan Aisyah dimeja. "Bapak mau makan juga?" Tanya pemilik warung pada Adam.
"Iya Mas" jawab Adam singkat.
"Tunggu sebentar ya Pak," kata pemilik warung kemudian pergi. Tidak begitu lama dia sudah kembali membawakan pesanan Adam. "Silahkan" katanya kemudian.
"Terimakasih Mas" jawab Adam.
Aisyah makan duluan tanpa menghiraukan Adam, tampaknya dia sangat kecewa dan belum bisa menerima kenyataan yang begitu pahit ini.
Setelah selesai makan, buru2 Aisyah pergi meninggalkan Adam yang masih mengisi perutnya tanpa menghiraukan ponselnya yang masih ditangan Adam.
"Sayang, tunggu sayang," panggil Adam, tapi yang dipanggil tidak perduli.
Adam tidak lagi menyelesaikan makannya. "Ini Mas" kata Adam sembari menyodorkan uang berwarna biru pada pemilik warung, kemudian dia berlari menyusul Aisyah.
"Pak, kembaliannya Pak" kata pemilik warung.
"Ambil aja Mas," jawab Adam tanpa menoleh.
"Sayang, tunggu sayang," teriak Adam sambil terus menyusul Aisyah. "Sayang, dengarkan Mas Adam dulu," kata Adam begitu sudah dekat.
"Sudahlah Mas, aku butuh waktu untuk sendiri, jangan ganggu aku," ucap Aisyah sembari menatap laki2 yang ada disampingnya.
"Kalau seseorang sudah tidak mau lagi tolong jangan diganggu," tiba2 suara itu mengejutkan Adam dan Aisyah, keduanya menoleh bersamaan.
"Daffa..." ucap Adam dan Aisyah hampir bersamaan.
"Saya rasa anda sudah tau jika Aisyah sudah tidak menginginkan Anda lagi," kata Daffa sambil tersenyum sinis.
"Anda jangan ikut campur Pak Daffa, memangnya anda tidak ada kerjaan sehingga harus terus mengganggu kami," kata Adam dengan emosi.
"Jauhi Aisyah, dia sudah tidak mau dengan anda," kata Daffa sok tau. "Aisyah, kembali padaku, aku masih sangat mencintai kamu," katanya kemudian pada Aisyah.
"Tutup mulut anda !" Kata Adam sembari melayangkan pukulan kewajah Daffa. Tampak Daffa hampir tersungkur dengan darah yang keluar dari hidungnya.
"Kurang aj*r," maki Daffa kemudian balas memukul. Pukulannya tepat mengenai pipi kiri Adam. Adam terjatuh karena kondisi tubuhnya yang memang masih sangat letih.
"Mas Adam," teriak Aisyah. "Stop...stop Daffa aku mohon," kata Aisyah pada Daffa yang berusaha mendekati Adam lagi.
"Aisyah, jangan halangi aku," kata Daffa terus berusaha mendekati Adam.
"Jangan Daffa, sudah," Aisyah terus berusaha menghalangi.
Ada rasa bahagia dihati Adam melihat Aisyah membelanya, pasti masih ada rasa sayang dan cinta dihati Aisyah untuknya. Rasanya Adam rela menanggung rasa sakit disekujur tubuhnya demi mendapatkan perhatian dan cinta Aisyah kembali. Tanpa sadar ia tersenyum.
"Ayo Mas kita pergi," ajak Aisyah sembari membantu Adam berdiri. Tampaknya dia lupa kalau dia sedang marah pada Adam.
Mereka berdua pergi meninggalkan Daffa yang masih berdiri mematung.
"Sayang" panggil Adam seolah tidak percaya Aisyah menggandeng tangannya.
Tampaknya Aisyah mulai sadar, buru2 ia melepaskan gandengan tangannya dan berlari meninggalkan Adam.
----Next---- Episode 29
Cerita Horor | Pembalasan sang Mantan Episode 27
#Pembalasan sang mantan
#Fiksi
#Part 27
"Sayang, maafin Mas sayang, Mas menyesal, Mas khilaf," Adam berusaha memberi pengertian pada Aisyah yang seakan tetap tidak perduli dan tidak bisa menerima kesalahan Adam dimasa lalu.
"Antar aku pulang Mas," pinta Aisyah masih dengan derai airmata. Tubuhnya yang terasa lemas masih tergeletak tanpa tenaga.
"Iya sayang, Mas antar pulang. Ayo pindah kedepan dulu," kata Adam sembari membantu Aisyah untuk duduk.
"Jangan sentuh aku Mas," tolak Aisyah sembari menepis tangan Adam.
"Sayang, apa kamu bisa sendiri?" Tanya Adam ragu, karena Aisyah terlihat begitu lemah.
Tanpa menjawab, dengan bersusah payah Aisyah berusaha duduk sendiri. "Aku duduk disini aja," kata Aisyah kemudian.
"Duduk didepan aja sayang," pinta Adam.
"Gak Mas, aku duduk disini aja," jawab Aisyah sambil membuang muka.
"Oke," jawab Adam kemudian turun dan menutup pintu.
Selama diperjalanan, mereka berdua hanya diam membisu. Sesekali Adam melihat Aisyah dari rear vision mirror, tampak Aisyah masih terus menangis dan sesekali menyeka air mata yang membasahi pipinya. Entah apa yang akan terjadi dengan hubungan mereka.
"Sayang, maafkan Mas Adam sayang. Mas benar2 sudah berubah, Mas menyesal dengan semua yang telah terjadi dulu," Adam membuka pembicaraan.
Aisyah tetap membisu, fikirannya jauh melayang. Sungguh mengerikan kenyataan yang harus ia hadapi. Benar2 sakit dan hancur hati Aisyah dengan semua ini. Air mata tak henti2nya tumpah, dulu Daffa...dan kini Adam.
"Sayang, Mas mohon sayang, ampuni Mas," Adam menghiba.
**********
Setelah sampai dirumahnya, Aisyah segera turun dan berlari meninggalkan Adam yang buru2 turun dari mobil. Segera ia membuka kunci rumahnya dan berlari masuk.
"Sayang...sayang...Aisyah," panggil Adam seraya mengetuk pintu. "Tolong sayang buka pintunya, izinkan Mas masuk," tambah Adam kemudian.
"Pergi Mas, pergi..." teriak Aisyah dari dalam. Dia duduk dibelakang pintu sembari menangis tersedu. Rasanya sulit baginya untuk menerima kenyataan yang begitu pahit ini.
"Sayang, Mas mohon, buka dulu pintunya," pinta Adam.
"Pergi Mas, aku butuh waktu sendiri," jawab Aisyah masih dengan tangisnya.
**********
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, Adam masih terduduk dilantai teras rumah Aisyah. Dia tidak bisa pergi meninggalkan Aisyah dengan keadaan seperti ini. Sesekali tampak ia mengintip kedalam melalui jendela seperti seorang pencuri.
"Sayang" panggilnya dari jendela kamar Aisyah. Dia berusaha melihat keadaan Aisyah dari balik hordeng yang sedikit tersibak. Terlihat Aisyah masih duduk sembari menangis.
"Bagaimana Dam? Sakit bukan ditolak seperti ini?" Terdengar suara di belakang Adam.
Buru2 Adam menoleh, terlihat sosok Indah berdiri dibelakangnya sambil tersenyum dingin.
Adam tertunduk tak bisa berkata. Memang mungkin inilah yang pantas dia dapatkan atas kesalahannya dimasa lalu.
Indah tertawa melihat orang yang telah menghamilinya itu kini tertunduk tak berdaya bagai seorang pengemis. Dimana kesombongannya dulu? Dimana? Dengan begitu mudahnya ia mencampakkan seorang wanita yang tengah mengandung benihnya.
"Inilah karma atas perbuatanmu Dam, kamu harus menerimanya," ucap Indah lagi.
"Iya Indah, ini memang pantas aku terima," ucap Adam lirih.
**********
Adam tengah tertidur pulas dikursi teras saat Aisyah mengintipnya dari jendela. Adam nekat tidur diteras rumahnya demi mendapatkan kata maaf. Sungguh tidak tega melihat orang yang dia cintai menderita seperti itu, namun kesalahannya dimasa lalu membuat Aisyah berat untuk memaafkannya.
"Mas Adam, aku sayang sama Mas, aku cinta sama Mas, tapi aku butuh waktu Mas," lirih Aisyah berbisik tanpa mengalihkan pandangannya pada Adam yang tengah tertidur.
Terlihat Adam menggigil karena udara diluar yang begitu dingin. Pelan2 Aisyah membuka pintu dan menutupi tubuh Adam dengan selimut. Bagaimanapun juga dia merasa tidak tega.
**********
Sinar matahari membangunkan Adam yang letih. Dia terkejut ketika mendapatkan selimut yang menutupi tubuhnya. "Aisyah" gumamnya. Ternyata gadis itu masih memperhatikannya. Dilihatnya jarum jam yang ada dipergelangan tangannya menunjuk keangka 7.
Adam termasuk seseorang yang profesional, apapun masalah pribadinya, tidak membuat dia melupakan pekerjaannya. Segera ia meninggalkan rumah Aisyah dengan sebelumnya mengirim pesan melalui aplikasi hijau diponselnya. [Mas pulang sayang, kalau kamu capek, istirahat aja dulu] tanda dua centang itu segera berubah biru, Adam tersenyum.
----Next---- Episode 28
Cerita Horor | Pembalasan Sang Mantan Episode 26
#Pembalasan sang mantan
#Fiksi
#Part 26
"Mas Adam kenal dengan Indah?" Tanya Aisyah kaget. Dia menatap Laki2 yang ada disampingnya dengan pandangan yang penuh dengan tanda tanya.
"Iya sayang, Mas mengenalnya, bahkan sangat mengenalnya," jawab Adam dengan wajah tertunduk. Dia tampak terdiam beberapa saat seperti berfikir, mungkin sedang menyusun kata2 yang pas untuk disampaikan pada gadis yang sangat dicintainya itu.
"Sangat?" Aisyah mengulang perkataan Adam.
"Iya sayang, sangat..." jawab Adam.
Sejenak mereka berdua sama2 terdiam tenggelam dalam fikirannya masing2.
"Indah adalah bagian dari masalalu Mas, dia..." Adam terlihat menghela nafas, "dia mantan Mas," sambungnya lagi sembari sesaat memejamkan mata seolah tidak ingin melihat reaksi Aisyah.
Aisyah tersentak kaget dengan apa yang dikatakan Adam barusan. "Indah mantan Mas Adam?" Aisyah bertanya untuk memastikan dia tidak salah dengar.
"Iya sayang," jawab Adam sembari menatap wajah gadis disampingnya itu. Dia tampak menunggu apa reaksi Aisyah setelah ini. Berkali2 Adam menghela nafas berat yang terasa sesak memenuhi dadanya.
"Terus dia meninggal karena apa mas? Karena didalam mimpiku itu, dia bukan lagi sosok manusia seperti kita Mas..." Aisyah tampak begitu penasaran ingin segera mengetahui semuanya.
Adam kembali menghela nafas sembari menggeleng pelan seolah berat untuk menceritakan semuanya. "Sayang, kamu bisa janji gak akan marah dan bisa menerima Mas?" Adam bertanya dengan nada bimbang.
"Sebenarnya ada apa Mas?" Aisyah makin penasaran.
"Sayang..." Adam tidak melanjutkan kata2nya seolah tidak sanggup untuk mengungkapkannya. Dia tertunduk sambil terus menggeleng pelan dengan sesekali mengusap wajahnya.
"Mas..." Aisyah memanggil seolah tidak sabar menunggu jawaban Adam.
"Sayang, kamu bisa janji gak akan meninggalkan Mas dan mau menerima semua masalalu Mas?" Kembali Adam bertanya.
"Sebenarnya ada apa Mas? Kenapa Mas Adam selalu bertanya seperti itu? Sebenarnya apa yang sudah terjadi dengan kalian? Apa yang terjadi dengan Indah?" Aisyah mencecar dengan banyak pertanyaan yang membuat kepala Adam sakit.
"Sayang, Mas benar2 menyesal sayang, benar2 menyesal," kata Adam sembari menangis.
Aisyah semakin bingung melihat Adam seperti itu, sebenarnya apa yang telah terjadi sehingga membuatnya begitu tertekan.
"Kejujuran itu memang menyakitkan Mas, tapi itu jauh lebih baik dari pada menyimpan kebohongan," ucap Aisyah dengan tenang. Ucapannya itu seolah memberi kekuatan baru pada Adam.
"Sayang, Mas sangat mencintai kamu...Mas benar2 sudah berubah, Mas benar2 menyesal," kata Adam sembari mengangkat wajahnya yang sedari tadi tertunduk. Adam kembali terdiam untuk beberapa saat menatap mata Aisyah dalam2. "Mas sudah menghamili Indah, sayang," tambah Adam kemudian.
Aisyah tersentak mendengar pengakuan orang yang sangat dicintainya itu, dia tampak menggeser pantatnya kebelakang seolah ingin menjauh sembari menggelengkan kepala.
"Sayang, maafkan Mas, Mas khilaf," ucap Adam mencoba menjelaskan.
Aisyah menangis tersedu mendengar pengakuan Adam, apa bedanya Adam dengan Daffa? Sama2 menghamili wanita, sama2 kotor dan rendah. Aisyah merasa terperosok dilubang yang sama.
"Sayang..." Adam memanggil.
"Aku butuh waktu untuk berfikir Mas," jawab Aisyah sembari berdiri.
"Sayang, maafkan Mas sayang," Adam memohon sembari berlutut dihadapan Aisyah, wajahnya basah oleh air mata penyesalan.
Aisyah mematung dengan tatapan kosong, fikirannya mengembara jauh entah kemana. Ratapan Adam tidak lagi didengarkannya, dia terlalu sibuk dengan beban yang bergelanyut didadanya.
"Sayang..." Adam berdiri karena dilihatnya Aisyah hanya terdiam, wajah gadis itu begitu pucat. Dengan berat Adam meraih jemari Aisyah, jemari itu begitu dingin. "Sayang" kembali Adam memanggil. Aisyah tidak meresponnya sama sekali, tatapannya masih tampak kosong.
Tiba2 Aisyah terkulai tidak sadarkan diri, untung Adam segera menangkapnya sehingga dia tidak terjatuh. "Sayang..." teriak Adam sembari memeluk tubuh Aisyah yang layu. "Maafkan Mas Adam sayang," ucap Adam panik. Dia sangat merasa bersalah atas kejadian yang telah menimpa Aisyah.
Segera Adam membopong tubuh Aisyah dan membawanya masuk kemobil. Dia mencari minyak kayu putih yang selalu dibawa Aisyah didalam tasnya. Didekatkan botol itu dihidung Aisyah berharap gadis itu segera sadar. Diusapkannya juga minyak itu pada tangan dan kaki Aisyah yang terasa dingin.
Perlahan2 aisyah membuka matanya, kembali ia menangis mengingat apa yang disampaikan kekasihnya itu barusan.
"Sayang kamu gak papa?" Adam tampak sedikit lega melihat Aisyah membuka mata walaupun sambil menangis, setidaknya gadis itu sudah sadar.
"Jangan sentuh aku Mas, jauhi aku," kata Aisyah sambil terus menangis. Ingin menjauh dia tak mampu, karena tubuhnya masih sangat lemas ia rasakan.
-----Next----- episode 27
Cerita Horor | Pembalasan sang Mantan Episode 25
#Pembalasan sang mantan
#Fiksi
#Part 25
"Cepat ceritakan semuanya pada Aisyah atau aku yang akan memberitahunya," ancam Indah dengan suara datar namun penuh penekanan. Matanya menatap tajam kearah Adam yang nampak masih memegang perutnya yang masih terasa sakit akibat tinju Daffa.
"Iya Indah, iya..." jawab Adam.
"Aku ingin sekarang, aku sudah tidak tahan lagi menunggunya, aku betul2 tersiksa," tutur Indah dengan nada memelas.
"Besok Indah, besok. Aku janji," kata Adam asal. Padahal dia belum tau pasti, apakah dia sanggup mengakui dosa2nya dimasa lalu pada gadis yang dicintainya itu.
"Aku percaya padamu Dam, karena aku perhatikan kamu banyak berubah sekarang. Tapi jangan kamu buat aku kecewa lagi, atau..." ucap Indah menggantung.
"Atau apa Indah?" Adam penasaran.
"Atau kamu akan menyesal seumur hidupmu," sambung Indah menegaskan.
"Jangan ancam aku seperti itu Indah, aku janji besok akan aku ceritakan semuanya pada Aisyah," kata Adam panik. Entah apa yang akan dilakukan Indah bila Adam ingkar janji. Apakah Indah akan menyakiti dirinya? Atau Aisyah...? "Enggak...enggak.." gumam Adam sambil menggelengkan kepala membayangkan hal itu.
"Bayanganmu tepat sekali Dam. Makanya jangan coba2 berbohong lagi padaku," kata Indah seolah tau apa yang ada dalam fikiran Adam.
**********
Seperti biasa, Adam menjemput Aisyah setiap pagi untuk berangkat kekantor bersama. Itu sudah menjadi rutinitasnya sehari2. Saat sudah sampai dijalan depan rumah Aisyah, tampak Aisyah sedang bersama dengan seorang laki2. Laki2 itu tidak lain itu adalah Daffa, karena mobil putih milik Daffa terparkir disitu.
Sepertinya mereka sedang berdebat, terlihat dari gerak gerik mereka berdua walaupun tidak terdengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan. Tapi Adam begitu yakin, Aisyah akan setia kepadanya walaupun laki2 dari masalalunya itu kembali hadir.
Adam segera turun dari mobilnya dan menghampiri mereka berdua.
"Mas Adam?" Aisyah berlari mendekati Adam yang tetap setia dengan kacamata hitamnya yang selalu bertengger diatas hidung mancungnya.
"Ada apa lagi Pak Daffa, apa masih kurang jelas dengan perkataan kekasih saya kemarin?" Ucap Adam sambil terus berjalan mendekat. Dadanya sesak menahan emosi. Daffa masih saja mengejar Aisyah yang jelas2 sudah menolaknya.
"Ini bukan urusan anda," jawab Daffa singkat.
"Tentu sekarang ini menjadi urusan saya karena anda terus berusaha menggoda kekasih saya," tutur Adam datar.
"Anda hanya pelarian Aisyah, jadi jangan bangga,"
"Saya tidak ada waktu berdebat dengan anda. Ayo Aisyah, kita berangkat," kata Adam dengan santai. Mereka berduapun pergi meninggalkan Daffa yang tampak garang.
Tiba2 Daffa menarik lengan Adam dan kembali memberikannya bogem mentah pada perut Adam yang belum sembuh total.
Adam jatuh tersungkur sembari memegangi perutnya. Dia benar2 tidak menyangka akan mendapat serangan dari Daffa secara tiba2.
"Mas Adam!" Teriak Aisyah panik.
Daffa kembali mendekati Adam dan menarik pundak Manager itu dengan kasar.
"Stop Daffa, stop. Aku mohon jangan sakiti Mas Adam," ucap Aisyah memohon sembari berusaha menghalangi, karena Daffa tampak seperti orang yang kesetanan.
"Jangan halangi aku Aisyah," jawab Daffa terus berusaha mendekati Adam yang tampak tidak berdaya.
"Plaak" tamparan keras dari tangan lembut Aisyah mendarat tepat dipipi kiri Daffa.
"Aisyah?" Ucap Daffa sembari memegang pipinya yang terasa panas. Seakan dia tidak percaya dengan apa yang telah dilakukan gadis yang dicintainya itu.
"Jangan sakiti kekasihku !" Ucap Aisyah dengan nada tinggi dan tegas. "Tinggalkan kami sekarang juga !" Tambahnya lagi.
"Aisyah" Daffa tampak tertegun.
"Ayo Mas, kita pergi," ajak Aisyah sembari membantu Adam berdiri meninggalkan Daffa yang berdiri mematung.
Mereka dijemput oleh sopir kantor karena keadaan Adam tidak memungkinkan untuk membawa mobil sendiri.
"Langsung kekantor ya Pak," kata Adam setelah didalam mobil.
"Iya Pak" jawab Pak Hendra (sopir kantor)
"Mas, apa gak sebaiknya pulang? Keadaan Mas Adam kayak gini," saran Aisyah.
"Enggak sayang, kekantor aja, sebentar lagi juga bakalan baik," jawab Adam sambil tersenyum berusaha menutupi rasa sakit yang dirasakannya.
"Mas..."
"Sayang...aku gak papa kok," Adam meyakinkan.
Sampai sebesar itu pembelaan Aisyah terhadap dirinya, menampar Daffa didepan matanya. Apakah dia sanggup mengecewakan Aisyah dengan menceritakan masalalunya yang kelam?
**********
Siang itu Adam pulang lebih cepat, karena ada urusan pribadi yang harus diselesaikannya, begitu juga dengan Aisyah. Gadis itu tampak penasaran dengan apa yang akan diutarakan Adam.
Mereka berdua pergi kesebuah taman yang tampak sepi, karena hanya pagi dan sore hari disitu akan banyak pengunjung. Mereka berdua duduk disebuah kursi yang ada ditengah taman.
"Sayang, Mas ingin mengatakan sesuatu, sesuatu yang telah terjadi dimasalalu Mas," kata Adam membuka pembicaraan.
Aisyah hanya diam mendengarkan dengan seksama perkataan Adam. Dia tampak menatap mata Adam dengan dalam. Mata seseorang yang telah membuatnya menampar Daffa orang yang dulu pernah dicintainya.
"Sayang, Mas tidak sebaik dan sebersih yang kamu kira, masalalu Mas sangat kotor dan...," Adam menghela nafas panjang dan sejenak terdiam.
"Mas Adam, aku sayang sama Mas Adam, aku gak perduli dengan masalalu Mas," Aisyah menjawab tanpa menunggu Adam menyelesaikan ucapannya.
"Kamu yakin Aisyah, kamu mau menerima Mas setelah nanti kamu sudah mengetahui masalalu Mas?" Adam bertanya.
"InsyaAllah Mas," jawab Aisyah.
Aisyah menatap mata Adam dengan penuh keyakinan. Bahwa dia akan bisa menerima dan tidak memperdulikan masalalu Adam.
"Mas rasa kamu masih tidak mengerti dengan mimpi kamu yang kemarin, tentang seseorang yang bernama Indah," ucap Adam. Kembali dia terdiam.
"Indah?" Lirih Aisyah menyebut nama itu.
"Iya sayang, Indah," jawab Adam
----Next----
Disini saya sebagai penulis juga mempunyai kehidupan didunia nyata, kehidupan pribadi yang tidak luput dari masalah. Namun saya merasa disini punya tanggung jawab yang harus saya selesaikan secara profesional. Tidak tega dengan pembaca setia saya yang selalu menunggu lanjutan dari cerita yang saya buat. Disela2 semua masalah yang saya hadapi, tetap akan saya lanjutkan cerita saya ini, insyaAllah sampai selesai. Saya mohon do'a dari pembaca semuanya, semoga masalah didunia nyata saya dapat segera terselesaikan dengan baik (masalah yang tidak mungkin saya ungkap disini) Mohon do'anya selalu untuk saya. Do'a dari pembaca sekalian akan menjadi sumber kekuatan bagi saya. Terimakasih
Salam cinta dari saya penulis
Next episode 26. . .
Cerita Horor | Pembalasan sang Mantan Episode 24
#Pembalasan sang mantan
#Fiksi
#Part 24
"Mas Adam, kok diem aja sih dari tadi? Gak kayak biasanya," Aisyah membuka pembicaraan karena dari pertama Adam datang menjemputnya, tidak sepatah katapun yang keluar dari bibirnya, hanya senyum yang terkembang, itupun terlihat terpaksa.
"Gak apa2 sayang, Mas Adam cuma ngantuk aja, jadi malas ngomong," jawab Adam sambil sekilas melihat kearah Aisyah. Kemudian pandangannya fokus lagi kedepan.
"Mas Adam gak bohong? Sepertinya ada yang Mas simpan dari aku," tutur Aisyah dengan tatapan curiga.
"Sayang, gak ada..." belum sempat Adam menyelesaikan perkataannya, tiba2 sebuah mobil putih menyalipnya dan berhenti tepat didepan mobilnya. Dengan segera Adam menginjak rem, nyaris terjadi tabrakan. Untung saja keduanya memasang sabuk pengaman.
"Berengs*k" maki Adam sambil memukul stir. "Kamu gak papa sayang?" Tanya Adam pada Aisyah yang tampak sangat terkejut.
"Gak apa2 Mas, sebenarnya siapa yang pakai mobil putih itu?" Aisyah balik bertanya.
Tanpa menjawab pertanyaan Aisyah, Adam segera turun dari mobil dan menghampiri mobil putih yang ada didepan mobilnya. "Turun !"bentak Adam sembari memukul kaca mobil putih itu. Adam tau pasti itu mobil Daffa.
Tidak perlu diminta dua kali, Daffa turun dengan senyum kecut yang terulas dibibirnya. "Selamat pagi Pak Adam," ucapnya dengan raut wajah tanpa dosa.
"Berengsek kamu," maki Adam sembari mendaratkan sebuah pukulan diwajah Daffa. Pukulan yang tidak dapat dielakkan oleh Daffa tepat mengenai pipi kirinya.
Daffa terlihat limbung dan tersandar pada mobilnya. Buru2 dia membetulkan posisi tubuhnya sembari memegang pipinya yang memerah karena pukulan dari Adam. "Kurang ajar" Daffa balas memaki dan memukul perut Adam dengan tinjunya.
Adam terbungkuk sembari memegang perutnya. Pukulan Daffa membuatnya sulit bernafas karena menahan sakit.
"Mas Adam !!" teriak Aisyah sambil turun dari mobil dan berlari menghampiri. "Daffa..." Ucap Aisyah terkejut begitu sudah dekat. Dari dalam mobil, Aisyah tidak mengenalinya karena Daffa memakai kaca mata hitam dan topi.
"Aisyah..." Daffa juga tidak kalah terkejutnya dengan gadis itu, karena dia benar2 tidak tau kalau Adam bersama dengan Aisyah didalam mobil itu.
"Apa yang kamu lakukan Daffa? Ini bahaya, bisa terjadi tabrakan !" Kata Aisyah dengan nada yang tinggi. "Aku benar2 kecewa sama kamu," tambahnya lagi. "Mas Adam gak apa2?" Tanya Aisyah kepada Adam yang masih memegangi perutnya. Gadis itu memapah Adam untuk diajak masuk kedalam mobil. Ini kali keduanya Aisyah menyentuh Adam setelah tanpa sadar dia dulu pernah memeluknya karena melihat penampakan didalam mobil Adam.
"Aisyah...dengar Aisyah, aku benar2 tidak tau kalau ada kamu didalam mobil itu," kata Daffa penuh penyesalan.
Aisyah tidak menggubrisnya, dia tetap memapah Adam dan membukakan pintu belakang Agar Adam duduk disana. Karena untuk menyetirpun itu tidak mungkin. Aisyah segera menelepon sopir kantor untuk datang.
"Aisyah, maafkan aku Aisyah," tutur Daffa sembari mendekati Aisyah yang masih berdiri didekat pintu belakang yang masih terbuka.
"Jangan dekati Aisyah !" Teriak Adam sambil berusaha turun dari mobil. Wajahnya memerah karena marah. Rasa sakit diperutnya akibat pukulan Daffa tadi tidak ia rasakan lagi karena dilihatnya Daffa mendekati Aisyah.
"Aisyah, aku mohon kembali padaku Aisyah, aku masih sangat mencintai kamu," ucap Daffa tanpa memperdulikan ucapan Adam.
"Kurang ajar kamu !" Maki Adam sambil kembali berusaha memukul Daffa, tapi Aisyah menghalanginya.
"Sudah Mas, jangan kotori tangan Mas Adam, orang seperti ini tidak perlu dihiraukan," ucap Aisyah.
Tanpa sadar, ucapan Aisyah itu sangat menusuk hati Daffa. Dia tertunduk sedih mendengar perkataan wanita yang sangat dia cintai itu. Seandainya saja dia tidak pernah melakukan kesalahan yang fatal, sudah pasti Aisyah kini telah halal untuknya.
"Aisyah aku mohon..." ucap Daffa menghiba.
"Sudah cukup Daffa, semuanya sudah berakhir. Cuma Mas Adam yang kini aku cintai," Aisyah menegaskan.
Daffa dan Adam sama2 terkejut, hanya saja terkejutnya berbeda. Bila Daffa terkejut karena kecewa, sedangkan Adam terkejut karena bahagia dan tidak menyangka Aisyah mau mengakuinya dihadapan mantannya.
"Aisyah, kamu pasti bohongkan? Cintamu padaku gak mungkin bisa pudar secepat inikan?" Kata Daffa dengan penuh harap.
"Saya rasa anda tidak tuli, anda sudah mendengar sendiri perkataan Aisyah. Jadi saya harap anda mau mengerti dan tidak mengganggu kami lagi," kata Adam penuh percaya diri.
"Anda jangan ikut campur ya, saya bertanya pada Aisyah," ucap Daffa jengkel.
"Yang dikatakan Mas Adam benar Daffa, jangan ganggu kami lagi, kami saling mencintai," Aisyah kembali menegaskan.
**********
Adam merasa diatas angin atas apa yang diucapkan Aisyah kepada Daffa. Sungguh dia tidak menyangka Aisyah setegas itu dan terang2an mau mengakui perasaannya didepan sang mantan.
"Aisyah...aku makin sayang sama kamu," gumamnya sambil tersenyum.
"Dan aku tetap menunggu janjimu," tiba2 terdengar suara sahutan.
"Indah" Adam menoleh, sosok Indah sudah berdiri disamping tempat tidurnya.
"Aisyah sudah mau mengakuimu, jadi kapan kamu mau mengakuiku?" Tanya sosok Indah sembari duduk ditepi tempat Adam berbaring.
"Secepatnya Indah, aku janji, aku masih menunggu waktu yang tepat," jawab Adam berusaha duduk sambil memegang perutnya yang masih sakit.
----Next----Episode 25
Cerita Horor | Pembalasan Sang Mantan Episode 23
#Pembalasan sang mantan
#Fiksi
#Part 23
Adam nekat menelepon Aisyah, agak lama panggilannya baru dijawab. Pastinya Aisyah sudah tidur dan suara dering telepon darinya membangunkannya.
"Assalamu'alaiku Mas Adam, ada apa ya?" Tanya Aisyah panik begitu dia mengangkatnya. Pasti ada sesuatu yang terjadi sehingga Adam meneleponnya malam2 begini.
"Wa'alaikumsalam cintaku...," jawab Adam langsung ngegombal. "Gak ada apa2 kok, cuma tiba2 kangen sama kamu," tambah Adam sambil tersenyum.
"Ya ampun Mas Adam, aku kira ada apa nelpon malam2 gini, bikin aku panik aja deh," kata Aisyah dengan lega.
Adam tertawa mendengar perkataan Aisyah, ternyata gadis cantik itu mengkhawatirkannya. Sungguh Adam tidak menyangka Aisyah perhatian juga padanya. Adam berfikir selama ini, hanya dia yang selalu merasa khawatir terhadap Aisyah, ternyata sebaliknya juga.
"Kok malah tertawa sih Mas? Orang panik juga.." protes Aisyah. Wajahnya cemberut, cemberutnya membuatnya tampak lucu tapi tetap cantik, seandainya saja Adam melihatnya, pasti dia tambah gemas.
"Iya...iya...maaf sayang..." jawab Adam berusaha menahan tawanya. "Bolehkan aku panggil kamu dengan sebutan sayang?" Tanya Adam kemudian dengan nada yang serius.
Sejenak Aisyah terdiam, dia tidak langsung menjawabnya. Entah apa yang difikirkannya.
"Aisyah....boleh?" Kembali Adam bertanya dengan suara yang begitu lembut karena Aisyah belum menjawab pertanyaannya.
"Emmmm...boleh gak ya?" Kata Aisyah seperti menggoda. Dia sepertinya sengaja membuat Adam menunggu jawaban darinya.
"Aisyah...." kembali Adam memanggilnya dengan suara yang tidak kalah lembut dari yang tadi.
"Emmmm...boleh," jawab Aisyah kemudian.
"Makasih ya sayang," ucap Adam dengan girang seperti orang baru menang lotre 😂
"Sayang, aku gak ganggu kan nelpon malam2 gini?" Tanya Adam.
"Telat Mas, kalau mau tanya kayak gitu, tadi diawal," jawab Aisyah sambil tertawa. Mana mungkin dia terganggu kalau yang meneleponnya adalah Adam, laki2 yang telah membuatnya jatuh hati.
Panjang obrolan mereka, tidak terasa sudah pukul 3 pagi. "Sayang, sudah dulu ya. Sudah jam 3, pasti kamu ngantuk bangetkan?" Tanya Adam.
"Gak sih Mas, tapi iya deh tidur dulu, biar besok dikantor gak ngantuk," jawab Aisyah.
"Oke, langsung tidur ya sayang, mimpi yang indah. Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumsalam" jawab Aisyah. Dia tersenyum sembari menatap langit2 kamarnya, "sayang" gumamnya lirih. Kemudian dia beranjak dari tempat tidurnya untuk mengambil wudhu dan mengerjakan sholat malam.
**********
Sementara Adam masih memainkan ponselnya, dia tidak langsung tidur, sepertinya dia tidak merasa ngantuk sama sekali. Lagi asyik main game kesukaannya, tiba2 masuk sebuah panggilan dari nomor tidak dikenal.
"Siapa nih yang nelpon," gumam Adam. Dia tidak langsung mengangkatnya. Hingga panggilan itu berhenti dan berdering lagi sampai beberapa kali. "Kayaknya penting banget ya," gumamnya lagi.
"Iya halo, ini siapa?" Tanya Adam begitu dia mengangkatnya.
"Sayang...manis sekali panggilan itu...mengingatkan aku pada waktu dulu kita pacaran," jawab seseorang diujung telepon.
"Indah" Adam bisa menebak dari suaranya.
"Iya Adam, aku juga ingin disayang seperti Aisyah, tapi apa yang aku dapatkan? Setelah semuanya kau renggut dariku, kau campakkan aku. Bahkan kau bunuh aku yang tengah mengandung benih darimu. Dan kini aku hanya ingin kau mau berkata jujur, tapi kau tetap tidak bisa memenuhinya," kata sosok Indah dengan nada sedih (hantu jaman now sudah pada main hape2an yak 😂)
"Indah, bukan begitu, bukannya aku tidak mau berkata jujur, tapi aku masih menunggu waktu yang tepat Indah," jawab Adam. Tiba2 telepon terputus dan sosok Indah sudah berdiri dihadapannya.
"Kapan waktu yang tepat itu Dam?" Tanya sosok Indah sembari berjalan mendekat.
"Secepatnya Indah, aku janji," jawab Adam sambil bergerak mundur karena seolah Indah akan menelannya hidup2.
Lingkar matanya yang hitam dengan bola mata berwarna putih sungguh tampak menakutkan. Sangat jauh berbeda dengan Indah yang dulu, sosok yang cantik jelita itu kini menjelma menjadi sosok yang ahh...
"Besok...lusa...atau kapan? Ucap Sosok Indah lembut tapi terdengar tajam. Tangannya mengelus2 wajah tampan Adam yang tampak berkeringat.
"Secepatnya Indah, secepatnya," jawab Adam ketakutan.
"Sekarang bisa?" Ucap sosok Indah sembari menyodorkan ponsel milik Adam yang tergeletak ditempat tidur.
"Jangan Indah, jangan sekarang, beri aku waktu beberapa hari lagi," Adam menawar.
"Baik....aku menunggu janjimu, semoga kamu tidak mengingkarinya seperti janjimu dulu padaku,"
"Iya Indah, aku janji,"
Sosok indah segera lenyap bersamaan dengan suara mengaji dari musolah terdekat, karena jam sudah menunjukkan pukul 4 pagi.
------Next-----
Semoga tulisan saya ini tidak membuat pembaca bosan. Dan semoga pembaca semuanya selalu sabar menunggu kelanjutan dari cerita ini. Ingat, selalu like dan komen...karena like dan komen dari pembaca sekalian adalah penyemangat saya selaku pembuat cerita. Jangan sungkan2 untuk memberi kritik dan saran (itu jauh lebih berarti dan berguna dari sekedar kata NEXT🙏🙏) Kritik dan saran dari pembaca semuanya akan memberikan pemikiran baru terhadap saya selaku pembuat cerita.
Salam cinta dari saya pembuat cerita
Next ---- Part 24
Cerita Horor | Pembalasan Sang Mantan Epsisode 22
#Pembalasan sang mantan
#Fiksi
#Part 22
Aisyah duduk melamun sembari memainkan mouse dimeja kerjanya. Fikirannya masih pada mimpinya semalam. Siapa sebenarnya Indah? Dan apa hubungan Indah dengan dirinya? Mengapa harus dirinya yang dimintai tolong? Begitu banyak pertanyaan didalam kepala Aisyah yang segera meminta jawaban.
"Aisyah..." panggilan Adam membuyarkan lamunannya. Adam tampak memperhatikan wajah gadisnya itu dengan seksama. "Kok melamun, lagi mikirin apa?" Adam bertanya.
"Aku mimpi aneh Mas semalam," jawab Aisyah sembari memakai tas selempangnya. "Ayo makan siang dulu Mas, aku udah laper," ajak Aisyah tanpa menyambung ceritanya barusan, karena perutnya sudah menuntut minta diisi. Memang sekarang sudah waktunya jam makan siang, keadaan didalam kantor pun sudah sepi.
"Ayo" jawab Adam. Mereka berjalan beriringan menuju kekantin. Tampak semua meja sudah terisi penuh, tak tersisa satupun meja kosong.
"Wow" Kata Adam sembari tertawa. "Tumben penuh," tambah Adam lagi seraya memandang Aisyah yang tampak bingung. "Kita makan diluar aja ya," ajak Adam kemudian.
"Iya deh Mas, aku udah laper banget nih," jawab Aisyah sembari memegang perutnya yang mulai bernyanyi. "Kita makan pecel lele yang ada didekat kantor kita ya Mas," ajak Aisyah.
"Oke, ayo" jawab Adam tanpa ragu. Segera mereka berdua menuju kewarung pecel lele yang ada dipinggir jalan dekat kantor. Ini adalah kali pertamanya Adam makan ditempat seperti itu. Demi gadis yang dicintainya, Adam rela membuang jauh2 gengsinya.
"Baru kali ini ya Mas makan ditempat seperti ini?" Tanya Aisyah sambil tersenyum.
Adam tertawa mendapat pertanyaan seperti itu dari Aisyah, "iya" jawabnya kemudian. "Nggak salahkan mencoba sesuatu yang baru," tambahnya lagi.
"O iya Aisyah, memang semalam kamu mimpi apa?" Tanya Adam setelah mereka selesai makan. Nampaknya Adam sangat penasaran sekali.
"Itulah Mas yang membuat aku gak bisa tidur semalam," tutur Aisyah. Kemudian Aisyah menceritakan mimpinya itu pada Adam.
Adam tampak pucat dan salah tingkah mendengarkannya, wajahnya berkeringat karena panik.
"Mas Adam, Mas gak papakan?" Aisyah bertanya dengan cemas karena dilihatnya wajah Adam tampak pucat dan berkeringat.
"Gak papa Indah," jawab Adam salah menyebut nama.
"Indah?" Aisyah mengulang jawaban Adam.
"Eee...Aisyah, maksud Mas Aisyah, maaf Mas terlalu terbawa kedalam cerita kamu," ucap Adam panik. Wajahnya makin pucat dan berkeringat. "Eee Aisyah, ayo kita kembali kekantor," ajak Adam mengalihkan pembicaraan.
"Oke" jawab Aisyah sembari melihat ke jam tangannya.
"Berapa semuanya Mas?" Tanya Adam kepada pemilik warung sambil merogo dompet dari saku celananya.
"50 ribu Pak," jawab pemilik warung.
"Ini Mas, kembaliannya ambil aja," kata Adam sembari menyodorkan uang pecahan 100 ribu kepada pemilik warung.
Aisyah tampak terkejut melihatnya. Datang kekaguman dihatinya pada sosok kekasihnya itu. Dia bukan hanya tampan, tapi juga dermawan. Sungguh dia tidak salah pilih, pikirnya.
"Terima kasih banyak Pak, terima kasih," jawab pemilik warung sambil membungkuk, matanya tampak berbinar mendapatkan bayaran yang 2kali lipat.
**********
Kegelisahan Adam akan mimpi Aisyah belum menghilang sampai tiba waktu pulang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 9 malam saat dia akan meninggalkan kantor. Aisyah sudah pulang duluan sedari tadi sore karena pekerjaannya sudah selesai.
"Adam" terdengar panggilan saat dia membuka pintu mobil.
Segera Adam menoleh mencari asal suara, tapi tidak tampak seorangpun yang terlihat diarea parkir, sepi. Yang ada hanyalah security yang terlihat duduk diteras kantor sembari memainkan ponselnya. Lagi pula tidak mungkin security itu memanggil nama padanya.
"Jika kamu tidak mau mengakui dosa yang telah kamu perbuat, aku yang akan membongkarnya dengan caraku sendiri," terdengar suara yang begitu dikenal oleh Adam, Indah.
Adam menoleh kebelakang, kearah suara. Sosok Indah sudah berdiri dibelakangnya dengan tatapan mata yang tajam. "Indah, aku mohon Indah, beri aku waktu. Aku pasti akan mengakuinya, tapi bukan sekarang," tutur Adam memohon.
"Ucapanmu tidak bisa dipercaya. Dasar pembohong !" jawab sosok itu dengan nada tinggi.
"Betul Indah, aku hanya butuh waktu. Tolong mengerti aku," ucap Adam.
"Pak" tiba2 seseorang memanggilnya.
Segera Adam menoleh, ternyata security kantornya sudah berdiri tidak jauh darinya. Entah dari kapan dia berdiri disitu, Adam tidak menyadarinya.
"Pak Adam gak apa2?" Tanyanya kemudian.
"Eee...gak apa2," jawab Adam gugup sembari melihat kearah dimana sosok Indah berdiri tadi, tapi sosok itu sudah tidak ada lagi disana.
"Saya pikir ada apa," ucap security itu. "Hati2 Pak dijalan, selamat malam," tambahnya kemudian.
"Oke, selamat malam," jawab Adam kemudian masuk kedalam mobilnya dan segera berlalu. Indah....sungguh dia tidak mau mengerti dengan keadaan Adam. Rasa takut ditinggalkan Aisyah lebih besar ketimbang rasa takut akan teror sosok mantan.
Adam menyusuri jalanan yang masih ramai dengan fikiran yang entah mengembara kemana. Aisyah, gadis pujaannya itu apa mau menerimanya dengan semua masa lalunya yang begitu kotor? "Aisyah, aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu," teriak Adam seperti orang gila.
Berkali2 Adam memukul stir mobilnya bila mengingat masa lalunya. Mengapa dulu dia sebejat itu, melakukan maksiat, menghamili anak gadis orang, bahkan membunuh. "Ya Tuhan...ampuni dosa2ku," teriaknya lagi.
**********
Adam belum bisa tertidur hingga larut malam, fikirannya sangat kacau. Dia mengambil ponselnya, ingin rasanya menelepon Aisyah, tapi waktu yang mengurungkan niatnya. Sudah pukul 1 dini hari, tidak pantas rasanya menelepon seseorang selarut ini, lagian paling juga Aisyah sudah tidur.
Tapi, gak salah tentunya bila menghubungi pacar sendiri? Pikir Adam.
-----Next-----episode 23
Cerita Horor| Pembalasan Sang Mantan Episode 21
#Pembalasan sang mantan
#Fiksi
#Part 21
Indah dan Daffa sangat mengganggu fikiran Adam. Bagaimana tidak? Kedua mahluk itu selalu menerornya habis2an. Ingin mengakui dosanya dimasa lalu pada Aisyah dia tak mampu...ingin menanyakan perihal Daffa juga dia tak sanggup. Entah apa yang akan dilakukannya, ini semua benar2 membuat Adam gila.
"Aisyah, bisakah kau menerimaku dengan semua masa laluku yang kelam?" Gumam Adam sembari memandang langit2 kamarnya.
"Daffa, siapa kamu sebenarnya, ada hubungan apa kamu dengan Aisyah?"
"Indah, maafkan ketidakmampuanku mengakuimu dan anak kita sebagai bagian dari masa laluku,"
Adam menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Kepalanya sakit memikirkan semua itu. Entah harus dimulai dari mana agar dia bisa keluar dari persoalan hidupnya yang begitu pelik.
Lebam diwajahnya masih terasa sakit, begitu juga dengan bekas cekikan Indah dilehernya. Alangkah sial hidupnya, kisah cintanya tidak sebagus karirnya.
"Tring" pesan masuk melalui aplikasi hijau diponselnya. Segera Adam melihatnya, "Aisyah" gumamnya lirih, dia tersenyum dan sejenak melupakan masalahnya.
[Udah tidur Mas?] Aisyah bertanya
[Belum, lagi mikirin kamu] jawab Adam gombal
[😂😂😂] Aisyah mengirim emoticon tertawa
[Kok ketawa, Mas serius lho. Wajarkan kalau Mas mikirin kamu?] Bahkan bukan sekedar memikirkan Aisyah, tapi juga Indah dan Daffa.
[Oke..oke..] balas Aisyah
[Sudah malam Mas, aku mau tidur dulu, Mas Adam tidur juga ya] tambahnya lagi
[Iya sayang....mimpiin Mas Adam ya 😂😂]
[Hhh...good night, sweet dream]
[Good night 😘]
*********
Antara sadar dan tidak sadar, selimut Aisyah seperti ada yang menarik turun. Kembali Aisyah membetulkannya, tapi kembali turun. Begitu terus sampai beberapa kali.
Karena penasaran, Aisyah membuka matanya yang terasa berat. Masih dengan pandangan yang kabur, Aisyah melihat sosok berbaju putih berdiri didekat kakinya. Aisyah mengucek matanya untuk memperjelas pandangannya. Dan benar, sosok itu memang ada bukan sekedar halusinasi atau kesalahan penglihatannya.
"Aahhhh..." Aisyah menjerit sembari bergerak mundur dan menutup wajahnya dengan selimut. Jantungnya berdegup dengan kencang karena diburu rasa takut yang luar biasa.
"Aisyah, tolong aku," ucap sosok itu
"Siapa kamu?" Aisyah bertanya dengan sisa2 keberanian yang ada.
"Aku Indah, Aisyah..." jawab sosok itu.
"Indah??" Aisyah mengulang nama yang disebutkan oleh sosok itu. Sepertinya dia pernah mendengar nama itu, tapi entah kapan dan siapa yang menyebutkannya.
"Kamu wanita yang baik Aisyah, aku yakin kamu bisa membantuku," ucap sosok itu sembari mengulas senyum diwajah pucatnya.
"Apa yang bisa aku bantu?" Tanya Aisyah tidak mengerti. Namun sosok itu keburu menghilang meninggalkan tanda tanya besar dikepala Aisyah.
Aisyah membuka matanya, ternyata dia cuma bermimpi. Tapi apa maksud dari mimpinya itu? Indah? Siapa dia sebenarnya, dan mengapa harus minta tolong kepadanya? Aisyah tidak merasa mengenal seseorang yang bernama Indah.
Jam dikamarnya menunjukkan pukul 03.00 pagi, karena tidak bisa tidur lagi, Aisyah beranjak turun dari tempat tidurnya bermaksud mengambil air wudhu untuk mengerjakan sholat malam dan dilanjutkan dengan membaca surat yasin.
**********
Mata Aisyah terasa berat karena hanya tidur beberapa jam saja tadi malam. Berkali2 dia tampak menguap sembari menutup mulut dengan telapak tangannya.
Adam tampak memperhatikan gadis disampingnya itu. "Memang tidur jam berapa semalam? Kayaknya terakhir chat aku jam 23.00? Tanyanya sambil sesekali melihat kedepan.
"Iya...memang langsung tidur, tapi jam 03.00 pagi bangun terus gak bisa tidur lagi," jawab Indah menjelaskan.
"Kenapa? Mikirin Mas Adam ya?" Tanya Adam sambil tertawa.
"Ih GR..." jawab Aisyah sembari memuncungkan bibir tipisnya.
Cantiknya Aisyah....bahkan saat dia cemberut seperti itupun dia tampak sangat cantik. Sungguh sebuah karya Tuhan yang sangat luar biasa...
----Next----part 22
Cerita Horor | Pembalasan sang Mantan # part 20
#Pembalasan sang mantan
#Fiksi
#Part 20
"Aisyah, boleh Mas bertanya?" Tanya Adam disela2 makan siangnya. Karena ucapan Daffa melalui chating semalam selalu mengganggu fikirannya. Sakit rasanya mengingat kekasihnya lebih memilih chatingan dengan pria lain dan mengabaikan chat darinya.
"Mau tanya apa Mas?" Aisyah menjawab dengan mengeryitkan keningnya. Adam terlihat sangat serius, sebenarnya ada apa, pikir hati Aisyah.
"Kenapa chat Mas semalam gak kamu balas, bahkan gak kamu baca, Mas lihat kamu online, kamu sibuk chatingan sama siapa Aisyah?" Adam mencecar dengan pertanyaan.
Bukannya menjawab, Aisyah malah tersenyum. Ternyata Pak Manager ini cemburu padanya.
"Kok malah senyum?" Tanya Adam.
"Mas Adam cemburu ya?" Aisyah balik bertanya. "Aku lagi video call sama Dewi adikku Mas. Chat Mas aku baca kok, tapi agak lama memang. Ketika aku membalasnya, ternyata kuotaku habis, jadi tidak terkirim," terang Aisyah panjang kali lebar.
"Kamu gak bohong Aisyah?" Tampaknya Adam kurang yakin.
"Iya Mas, ini buktinya," kata Aisyah sembari menyodorkan ponselnya kepada Adam untuk diperiksa.
Ternyata memang benar, hingga larut malam Aisyah melakukan panggilan video dengan adiknya. Dan Aisyah juga membalas chat darinya, tapi tidak terkirim. Ternyata Daffa berbohong padanya.
"Sekarang Mas percaya?" Tanya Aisyah.
"Maafin Mas Aisyah, sudah curiga sama kamu," kata Adam sembari mengembalikan ponsel milik Aisyah. "Ntar Mas belikan paket ya," tambah Adam lagi.
"Gak usah Mas, aku udah beli kok, belum sempat aja masukinnya," jawab Aisyah. "Ini dia" tambahnya sembari menunjukkan voucher yang diambilnya dari dalam tas.
"Oo gitu ya," kata Adam. Dia tampak begitu lega sekarang.
**********
Aisyah pulang lebih dulu diantar sopir kantor karena Adam lembur hingga larut malam. Jam didinding sudah menunjukkan pukul 23.00
Adam masih sibuk dengan file2 yang menumpuk dimeja kerjanya, entah jam berapa semuanya akan selesai.
Tiba2 saja lampu padam, seketika semuanya menjadi gelap gulita. Tangan Adam buru2 mencari ponsel yang tergeletak dimeja kerjanya. Tapi apa yang teraba olehnya? Seperti tangan yang begitu dingin. Cepat2 Adam menarik kembali tangannya.
"Hihihihi..." terdengar suara tawa yang begitu keras menusuk kegendang telinga Adam. Disusul kemudian dengan suara tangis bayi yang begitu menyayat hati.
"Indah" Adam memanggil. Karena suasana begitu gelap, Adam tidak dapat melihat apapun.
"Kesabaranku sudah habis Dam, sudah begitu lama aku menunggu pengakuanmu atas dosa2mu," terdengar suara Indah dengan nada marah. "Begitu kejamnya kau padaku dan anak kita," tambahnya lagi.
"Indah, maafkan aku Indah, aku belum bisa mengakuinya, aku mohon beri aku waktu," suara Adam menghiba.
"Kesabaranku ada batasnya Dam !!" Jawab Indah disusul dengan cekikan yang begitu kuat dileher Adam.
"Indah" teriak Adam sembari berusaha melepaskan cekikan tangan dingin Indah dari lehernya. Namun cengkeraman tangan Indah makin kencang. Sulit bagi Adam untuk bernafas.
"Am-puni a-ku In-da-h," suara Adam terputus2.
"Apa dulu kamu mengampuniku? Bahkan kamu tega membunuhku yang sedang mengandung anakmu. Kamu jahat Dam !" Teriak Indah sembari melemparkan Adam sehingga dia menabrak dinding.
Dengan susah payah Adam bangkit dan meraba2 karena kondisinya begitu gulita.
"Indah, ampuni aku...beri aku waktu...akan ku akui semuanya pada Aisyah," Adam memohon.
"Waktumu sudah habis Dam, aku tidak sabar lagi !" Jawab Indah sembari mencekik kembali leher Adam.
"Ampun Indah..."
"Triiiing" suara panggilan masuk dari ponsel Adam, seketika ruangan sedikit ada cahaya karena layar ponsel yang menyala.
Tiba2 cekikan dileher Adam terhenti meninggalkan bekas yang begitu nyeri. Buru2 Adam menggapai ponselnya, ternyata Aisyah yang menelepon.
"Assalamualaikum Mas Adam," Aisyah mengucap salam dari ujung telepon.
"Wa'alaikum salam Aisyah," jawab Adam sembari menatap kesekelilingnya memastikan bahwa Indah tidak ada lagi disitu.
"Mas Adam belum pulang?" Tanya Aisyah.
"Belum Aisyah, kerjaan Mas masih banyak," jawab Adam sembari memegang lehernya yang terasa sakit akibat cekikan tadi. "Terimakasih Aisyah, kamu sudah menolong Mas," tanpa sadar Adam berkata.
"Menolong? Menolong apa Mas?" Tanya Aisyah bingung.
"Eeee...bukan menolong, menelepon maksud Mas," jawab Adam gugup, dia keceplosan.
"Ooo"
Tiba2 lampu kembali menyala dan semuanya kembali terang benderang. Kertas2 yang menumpuk dimeja banyak yang berserakan dilantai akibat insiden barusan.
"Aku kesitu ya Mas, biar aku bantu," kata Aisyah menawarkan diri.
"Gak usah Aisyah, kamu istirahat aja," Adam melarang. "Banyak begadang nanti kamu sakit," tambah Adam.
"Ya udah kalau gitu Mas, Mas hati2 ya? Cepat pulang kalau sudah selesai. Kalau ngantuk, pulangnya minta antar sopir aja ya," Aisyah berpesan.
"Iya nyonya Adam Hermawan," jawab Adam sambil tersenyum.
"Apaan sih?" Aisyah tertawa mendengar perkataan Adam. "Ya udah, aku tutup teleponnya ya Mas. Assalamualikum..."
"Wa'alaikum salam," jawab Adam.
Karena takut Indah akan datang lagi, Adam meminta asistennya untuk menemaninya.
Akhirnya pekerjaan Adam selesai juga, sudah jam 03.00 dini hari. Adam segera bergegas pulang, begitu juga dengan yang lainnya. Hanya security yang bertugas shif malam yang tinggal.
Dengan mata yang berat Adam menyusuri jalan yang mulai lenggang. Ingin minta antar sopir kantor dia tidak tega, karena hari sudah sangat larut, bahkan menjelang pagi.
Tiba2, sebuah mobil putih menyalip mobil Adam dan berhenti tepat didepannya. Dengan mendadak Adam menginjak rem agar tidak terjadi tabrakan.
Keluar dari mobil putih itu seorang laki2 yang Adam kenal. Sungguh buruknya nasib Adam, gangguan selalu saja datang, tidak dari indah...dari Daffa...
Adam segera turun dari mobil dan menghampiri Daffa yang sudah berdiri tepat didepan mobilnya. "Apa yang anda inginkan Pak Daffa?" Adam bertanya dengan geram.
"Keinginan saya sederhana saja Pak Adam, jauhi Aisyah," jawab Daffa dengan santai. "Saya tidak suka anda dekat2 dengan Aisyah," tambahnya lagi.
"Aisyah pacar saya, bagaimana bisa saya dilarang untuk dekat2 dengan dia," jawab Adam sembari tersenyum kecut.
Pukulan Daffa diwajah Adam tidak dapat dihindari, seketika Adam jatuh tersungkur dengan sudut bibir yang berdarah. Adam segera bangkit dan baku hantam tidak dapat terelakkan lagi. Keduanya sama2 babak belur dengan wajah yang lebam.
**********
"Mas Adam, wajah Mas kenapa?" Tanya Aisyah keesokan harinya saat Adam menjemputnya.
"Biasa, cowok. Kalau gak berkelahi gak keren," jawab Adam sambil tersenyum. Padahal wajah dan tubuhnya terasa sakit semua, ditambah lagi cekikan Indah dilehernya yang sedikit lecet dan membiru.
"Mas ribut dengan siapa?" Aisyah menyelidik.
"Biasa, anak2 yang suka nongkrong2 dipinggir jalan," jawab Adam berbohong. "Mau minta uang, ya udah Mas ajak berantem aja," tambahnya lagi masih dengan berbohong.
"Mas Adam bohong kan?" Kata Aisyah sembari menatap wajah Adam dengan pandangan yang begitu dalam...
----Next----part 21
Cerita Horor | Pembalasan sang mantan part #19
#Pembalasan sang mantan
#Fiksi
#Part 19
Ingatan Adam masih tertuju pada Daffa yang mengaku sebagai kekasih Aisyah. Bagaimana tidak? Baru beberapa hari dia jadian dengan gadis pujaan hatinya itu, Daffa tiba2 saja muncul, belum lagi sosok Indah yang selalu menerornya untuk minta diakui.
Adam memijit2 pelipisnya yang terasa sakit, pusing dengan masa lalunya dan juga dengan masa lalu Aisyah. Ingin mengintrogasi Aisyah tapi tidak mampu, karena rahasia hidupnya pun jauh lebih mengerikan. Akhirnya Adam memilih untuk diam seolah2 tidak tau menau.
Sudah larut malam, tapi mata Adam belum mau terpejam juga. Iseng2 dia membuka aplikasi hijau diponselnya, dilihatnya Aisyah masih online. "Kok belum tidur?" Adam mengirim chat. Lama dia menunggu, dua tanda centang itu tak kunjung menjadi biru.
"Tring" ponsel Adam berbunyi, sebuah chat masuk. Buru2 Adam membukanya, pasti balasan dari Aisyah pikirnya. Ternyata bukan, chat dari nomor yang tidak dikenal.
[Sedang memikirkan apa Pak Adam? Sudah larut malam belum tidur] isi chat itu
[Maaf, ini dengan siapa?] Adam bertanya.
[Ini Daffa kekasih Aisyah] jawabnya.
[Ooo...Pak Daffa, begitu penasarannya anda dengan saya sehingga nomor saya pun sampai anda selidiki] kata Adam geram, dia juga menambahkan emoticon marah.
[Santai Pak Adam, iseng2 saja saya menyapa anda, sebenarnya saya masih chatingan sama Aisyah] jawab Daffa.
Emosi Adam tersulut, tidak lagi dia membalas chat melainkan langsung menelepon, tapi Daffa tidak mengangkatnya. "Bereng**k" maki Adam sembari melempar ponselnya ketempat tidur. Mungkin kalau dilempar kelantai takut rusak 😂😂
Tiba2 tengkuk Adam terasa berat dan bulu kuduknya meremang. "Apa lagi ini," gerutu Adam, baru saja dia dibuat emosi oleh Daffa, sekarang ini lagi. Adam sudah bisa menebak, pasti Indah. Teror dari kedua mahluk itu sungguh membuat Adam stres.
"Indah, aku mohon Indah, aku bisa gila dengan semua ini," tutur Adam sembari meremas2 rambutnya. "Aku mohon kamu bisa mengerti Indah, jangan paksa aku untuk mengatakan ini pada Aisyah, aku bisa kehilangan dia," tambah Adam lagi.
"Aku hanya ingin kamu jujur Dam," suara itu terdengar samar ditelinga Adam.
"Indah aku mohon Indah, mengertilah," ucap Adam sembari melihat kesekitar berusaha mencari sosok pemilik suara.
**********
Sinar matahari yang menerobos masuk melalui celah jendela membangunkan Adam. Dilihatnya jam diatas meja sudah menunjukkan pukul 9 tepat. Dengan segera Adam melompat turun dari tempat tidurnya.
"Aduh, kesiangan. Kok Bik Iyem gak ngebanguni aku ya," gerutu Adam. Segera dia mandi dengan super duper kilat dan berpakaian, kemudian berlari turun.
"Mas Adam, tadi Bibik ketuk2 pintunya gak bangun2, Bibik pikir Mas Adam gak kerja hari ini," kata Bik Iyem begitu Adam sampai diruang makan.
"Masak Bik?" Jawab Adam sambil mencomot roti dengan selai kacang yang sudah disiapkan Bik Iyem tanpa duduk terlebih dahulu.
"Iya Mas, berkali2 loh Bibik ketuk pintu dan panggil2," terang Bik Iyem.
"Hehehe...gak dengar Bik," jawab Adam. "Ya udah Bik, aku berangkat dulu ya," pamit Adam sambil berlari.
"Susunya mas," teriak Bik Iyem.
"Buat Bibik aja," jawab Adam tanpa menoleh.
**********
Adam memasuki kantor sambil berlari2 kecil, sepintas dilihatnya jam yang melingkar dipergelangan tangannya, sudah pukul 10.05
Bruk...dia menabrak seseorang.
"Aduh" pekik seorang wanita yang jatuh terduduk dengan berkas2 yang berhamburan dilantai.
"Sorry" kata Adam sembari membantu memunguti berkas2 yang berserakan.
"Mas Adam" panggil Aisyah. Karena sedari tadi menunduk, jadi dia tidak tau kalau yang menabraknya adalah Adam.
"Aisyah" Adam juga tampak terkejut, karena dia juga tidak begitu memperhatikan orang yang dia tabrak karena terburu2. "Maafin Mas Aisyah, Mas gak sengaja," tambah Adam sembari berusaha membantu Aisyah untuk berdiri.
"Gak usah Mas, aku bisa sendiri," tolak Aisyah sambil berusaha berdiri.
Adam menyodorkan berkas2 yang telah dikumpulkannya pada Aisyah. "Sekali lagi maafkan Mas ya Aisyah," ucap Adam merasa tidak enak.
Aisyah hanya tersenyum, "Kok datangnya siang Mas ?" Aisyah bertanya.
"Mas bangunnya kesiangan Aisyah," jawab Adam sambil nyengir.
"Nungguin balasan chat dari aku ya?" Tanya Aisyah sambil tersenyum. "Maaf gak sempat baca apalagi balas," tambah Aisyah.
"Iya Mas tau kamu lagi sibuk apa," jawab Adam sambil memandang kelain arah. Rasanya dia kesal sekali, karena Aisyah lebih memilih chatingan dengan Daffa dibandingkan dengannya. Apa memang benar mereka punya hubungan spesial?
----Next---- part 20
Rabu, 24 Maret 2021
Cerita Horor | Pembalasan sang Mantan part 18
#Pembalasan sang mantan
#Fiksi
#Part 18
Adam masih melamun diruang kerjanya sembari memainkan pulpennya. Fikirannya terus pada Indah yang selalu menuntut ingin diakui. Mana mungkin dia akan menceritakan masa lalunya yang kelam pada Aisyah, bisa2 dia kehilangan gadis yang dengan susah payah dia dapatkan.
"Indah, maafkan aku Indah...aku gak bisa cerita semuanya pada Aisyah," gumam Adam. Dia tampak bingung harus berbuat apa, bagai memakan buah simalakama...
"Triiing" tiba2 bunyi telepon mengejutkannya, hingga pulpen yang sedari tadi dimainkannya terjatuh dikolong meja kerjanya. "Ya" jawab Adam begitu mengangkat telepon.
"Maaf Pak, ada yang ingin bertemu dengan Bapak," kata resepsionis memberitahu.
"Siapa?" Tanya Adam singkat.
"Namanya Bapak Daffa," jawab resepsionis itu.
"Daffa" Adam tampak berfikir, sepertinya dia tidak mengenal seseorang yang bernama Daffa. "Suruh masuk," kata Adam kemudian.
Sembari menunggu orang yang bernama Daffa itu, Adam mengambil pulpennya yang tadi terjatuh. Dan...deg...jantung Adam berdegup dengan kencang saat dia melihat kekolong meja kerjanya, ada darah disana. Adam mengurungkan niatnya, tapi karena rasa penasaran, kembali dia melihatnya. Tidak ada apa2, yang ada hanyalah pulpennya yang tergeletak disana. Dan segera Adam mengambilnya.
"Tok tok tok" terdengar ketukan dari pintu. Mungkin ini orang yang bernama Daffa, pikir Adam. "Masuk" kata Adam sembari melihat kearah pintu.
Setelah dipersilahkan, pintu dibuka dari luar dan masuklah seorang laki2 yang sepertinya Adam pernah melihatnya, tapi entah dimana dia tidak ingat.
"Selamat siang Pak Adam" sapa orang itu.
"Selamat siang," jawab Adam sembari mengingat2 dimana dia pernah bertemu orang ini. "Silahkan duduk" Adam mempersilahkan.
Sebelum duduk, orang itu memperkenalkan dirinya. "Perkenalkan Pak Adam, saya Daffa," ucapnya sembari mengulurkan tangannya, Adam segera menjabat uluran tangan orang yang bernama Daffa itu. "Kekasih Aisyah," tambahnya lagi.
Adam terkejut saat orang itu mengatakan bahwa dia kekasih Aisyah. Dengan segera Adam melepaskan jabatan tangannya. "Maaf, anda kekasih Aisyah?" Adam bertanya seolah kurang yakin.
"Betul, saya Daffa kekasih Aisyah. Kita pernah bertemu sekali," jawabnya dengan percaya diri dan meyakinkan. "Walaupun pertemuan kita yang pertama meninggalkan kesan yang kurang mengenakkan," sambung Daffa.
"Maksud anda bagaimana ya, saya kurang mengerti," kata Adam tampak bingung.
"Apakah anda tidak ingat pernah memukul orang dipinggir jalan?" Kata Daffa mengingatkan.
"Oo jadi anda orang yang mengganggu Aisyah ya?" Kata Adam sambil mengangguk. "Perkenalkan, saya kekasih Aisyah yang baru," ucap Adam sembari mengulurkan tangannya.
"Anda jangan macam2 kalau tidak ingin menyesal," ancam Daffa dengan wajah yang memerah menahan amarah.
"Jangan mengancam saya ditempat saya, silahkan anda keluar sebelum saya panggil security," Adam balas mengancam.
"Baik Pak Adam, tapi urusan kita belum selesai," jawab Daffa kemudian pergi keluar dengan membanting pintu.
Adam memandang pintu yang dibanting oleh Daffa. "Sia**n" teriak Adam sembari memukul meja. Wajah putihnya memerah, dia tampak sangat marah. "Aisyah, apa benar kamu ada hubungan sama si Daffa itu," ucap Adam lirih.
**********
Diperjalanan pulang, Adam lebih banyak diam. Dia masih memikirkan Daffa dan pengakuannya tadi. Apa memang Daffa dan Aisyah mempunyai hubungan? Apa dia dijadikan pelarian oleh Aisyah?
"Mas Adam," Aisyah memanggil.
Adam hanya menoleh tanpa menjawab, kemudian pandangannya kembali lagi pada jalan yang dilaluinya. Pikirannya masih kacau dan penuh tanda tanya. Dia berfikir hanya dia yang mempunyai rahasia, ternyata Aisyah juga menyimpan sesuatu yang tidak diketahui olehnya. Ternyata prasangkanya selama ini benar, Ada yang dirahasiakan darinya.
"Mas" Aisyah kembali memanggil karena merasa tidak digubris.
"Iya sayang..." Adam menjawab sambil tersenyum, dia berusaha menutupi kegalauannya. "Kenapa?" Tanyanya kemudian.
"Kelihatannya gak seperti biasanya?" Kata Aisyah tampak curiga.
"Gak ada yang berubah sayang..." jawab Adam masih dengan senyumnya.
"Buktinya panggil aku sayang, biasanyakan gak gitu," kata Aisyah sewot.
"Oo iya ya? Lupa," jawab Adam sambil tertawa. Sementara Aisyah cemberut sembari memukul adam dengan tasnya.
----Next---- part 19
Makin dimari kesan horornya makin hilang ya guys...semoga reader setia saya tidak kecewa 😂😂🙏🙏
Cerita Horor | Pembalasan sang Mantan part#17
#Pembalasan sang mantan
#Fiksi
#Part 17
Adam tidak berusaha menyelidik lebih jauh, walaupun dia tau Aisyah berbohong, ada sesuatu yang dia tutupi. Tapi itu memang haknya, siapalah Adam? Dia bukan siapa2 yang harus tau semua tentang masalah dalam hidup Aisyah. Sesekali Adam melirik gadis disebelahnya itu, gadis itu masih tertunduk sembari memainkan ujung hijabnya.
"Mas Adam," tiba2 Aisyah membuka suara tanpa memandang keorang yang dia ajak bicara.
"Ya" jawab Adam sembari menoleh kearah Aisyah yang masih saja menunduk.
"Apa Mas benar2 serius sama aku?" Tanya Aisyah masih dengan menunduk.
"Apa Mas tidak kelihatan serius?" Adam balik bertanya. Dia menatap gadis itu dengan seksama, kemudian kembali fokus melihat kejalan.
Aisyah memandang Adam sekilas kemudian kembali menunduk. Dia nampak sedang menyusun kata2. Lama dia terdiam dan sesekali melihat keluar jendela. "Mas bisa berjanji bahwa Mas tidak akan mengecewakan aku?" Kembali Aisyah bertanya.
"Aisyah, sebisa mungkin Mas akan menjaga kepercayaan dan kesempatan yang kamu beri, Mas janji," jawab Adam meyakinkan.
"Nanti saat jam makan siang temui aku dikantin Mas," kata Aisyah.
"Oke" jawab Adam sambil mengangguk.
**********
Adam tampak serba salah diruang kerjanya, dia kelihatan tidak sabar menunggu jam makan siang tiba. Entah apa yang akan dikatakan Aisyah, tapi dia yakin Aisyah akan menerima cintanya. "Aisyah..." gumam Adam sembari mondar mandir seperti setrikaan. Berkas dan surat2 yang menumpuk dimeja kerjanya tidak lagi dia hiraukan. Fikirannya selalu pada Aisyah, Aisyah dan Aisyah. Gadis itu sungguh membuatnya gila.
**********
Aisyah duduk disudut kantin sembari meminum es teh yang dipesannya. Sesekali dia melihat ke jam yang melingkar dipergelangan tangannya. Adam belum muncul juga, ingin rasanya dia mengirim pesan melalui ponsel, tapi diurungkannya.
"Aisyah, maaf menunggu," tiba2 Adam datang dengan nafas yang turun naik, nampaknya dia terburu2 saat datang menemuinya. Segera dia duduk dikursi yang ada didepan Aisyah, sehingga mereka saling berhadapan.
"Mas Adam mau makan dan minum apa, biar aku yang traktir," kata Aisyah.
Adam tertawa mendengar perkataan Aisyah, "Masa cewek yang traktir cowok,"
"Kan aku yang ajak Mas kesini," kata Aisyah sambil ikut tertawa.
"Oke, ap tu yu lah..." jawab Adam masih sambil tertawa. Setelah makanan yang dipesan terhidang, mereka berdua segera menyantapnya.
Rasanya Adam tidak sabar menunggu apa yang akan disampaikan Aisyah, tapi dia tidak begitu menampakkannya dengan pura2 sibuk dengan ponselnya.
"Mas" Aisyah memanggil.
"Ya" jawab Adam. Yes, inilah saatnya, semoga saja sesuai dengan yang diharapkannya. Adam memandang wajah Aisyah yang sedang menatapnya. Belum pernah Aisyah menatapnya seperti ini, biasanya juga hanya sekilas kemudian menunduk, atau buru2 menatap kearah lain.
"Mas Adam betul2 bisa menjaga kepercayaanku?" Aisyah bertanya dengan mimik wajah yang serius.
"Mas janji Aisyah," jawab Adam penuh keyakinan.
"Aku ingin mencoba hubungan ini Mas, semoga saja Mas tidak ingkar janji," ucap Aisyah.
"Jadi maksud kamu, Mas diterima gitu?" Tanya Adam seperti orang bodoh. Matanya tampak berbinar dan wajahnya berseri2.
Aisyah hanya mengangguk sambil tersenyum. Adam terlihat sangat lucu dan tidak tampak seperti seorang Manager pada saat ini. Wajahnya....ampun...lucu pake banget 😂😂
"Terimakasih Aisyah," ucap Adam sembari mengulurkan tangannya bermaksud menggenggam tangan Aisyah. Tapi Aisyah buru2 menyingkirkan tangannya dari meja. "Sorry" ucap Adam kemudian. "Mas janji tidak akan mengecewakan kamu," tambahnya lagi.
**********
Kebahagiaan dirasakan pasangan yang baru jadian ini. Sejauh ini tidak ada kendala yang mereka hadapi. Tiba pada suatu malam, saat Adam mengantar Aisyah pulang, tiba2 sosok Indah duduk dijok belakang mobilnya sambil memangku seorang bayi.
Karena terkejut, Adam menginjak rem dengan tiba2 sehingga membuat Aisyah hampir terbentur kaca mobil karena tidak memasang sabuk pengaman.
"Ada apa Mas?" Tanya Aisyah terkejut.
Adam terus melihat kebelakang tanpa mengindahkan pertanyaan Aisyah. Wajahnya tampak pucat dan berkeringat.
"Mas" Aisyah kembali memanggil Adam yang nampak ketakutan.
"Akui aku dan anakmu Dam, itu permintaanku," kata sosok Indah.
"Aku, aku gak bisa Indah," jawab Adam terbata.
"Mas, apa maksudnya? Indah siapa?" Aisyah mencecar dengan pertanyaan. Dia ikut melihat kebelakang karena sedari tadi Adam selalu melihat kearah belakang.
"Akui aku dan anakmu Dam," kembali sosok Indah berkata.
"Aku...aku..." Adam terbata.
"Mas, ada apa sebenarnya?" Aisyah semakin penasaran. Dia yakin ada yang dirahasiakan darinya. Adam menyimpan sesuatu yang tidak diketahui olehnya.
-----Next-----part 18














